Dajjal & Penemuan Terakhir Umat Manusia

 


Kita mengenal sosok-sosok fenomenal yang mengaku sebagai tuhan dalam kisah para Nabi, yaitu Firaun dengan Nabi Musa dan Namrud dengan Nabi Ibrahim. Kenapa dua tokoh ini terdorong untuk mengakui dirinya sebagai Tuhan?

Manusia dianugerahi tiga kemampuan makhluk sekaligus: kemampuan nabati untuk bertumbuh, kemampuan hewani untuk bereproduksi dan bergerak, dan kemampuan ilahi berupa kecerdasan dan hikmah. Bukti bahwa manusia diberi akal ilahi tampak ketika penciptaan Adam, saat Allah mengajarkan seluruh ilmu dan nama yang ada di alam semesta. Karena itu, manusia menjadi makhluk fisik yang menanggung tanggung jawab moral dan amanah khilafah di muka bumi, yakni menjaga alam, bukan mengeksploitasinya (Azizah et al., 2024).  Akan tetapi, manusia pun memiliki dua potensi sekaligus, yaitu baik dan buruk, yang membuat kekhawatiran para malaikat bahwa manusia akan didominasi oleh sisi buruknya lalu berbuat kerusakan dan menumpahkan darah (Hussain, 2025). Manusia tidak dibiarkan begitu saja, potensi yang Allah berikan itu dihadapkan pada pilihan antara dibimbing oleh akal yang dididik wahyu lewat ajaran agama Islam atau didikte oleh nafsu atas akalnya.

Konsekuensi lain dari ditanamkannya sifat ilahi ini, sebagaimana disebutkan oleh Maslow, adalah keinginan untuk mendapatkan aktualisasi diri dan memaksimalkan potensi hidup. Apabila keinginan ini tidak dibimbing oleh wahyu, manusia menjadi tamak dan mencari cara apa pun untuk meraihnya. Ketamakan menghasilkan ketidakpuasan yang terus mendorong manusia menuju tingkat tertinggi, yaitu menjadi pengatur alam semesta. Itulah mengapa Firaun dan Namrud, ketika merasa berada di puncak kekuasaan dan mengatur seluruh sumber daya alam dan manusia, keduanya berani mengaku sebagai Tuhan.

Dalam buku Homo Deus karya Yuval Harari, manusia digambarkan sebagai makhluk yang selalu terdorong untuk mencapai tingkat tertinggi spesies, yaitu menjadi dewa atau tuhan (Harari, 2015). Berbeda dengan hewan, manusia selalu ingin melakukan hal lebih, mudah bosan dengan roda hidup yang repetitif, dan selalu berimajinasi untuk berada di puncak. Ini selaras dengan Sabda Nabi yang kurang lebih berbunyi, "Manusia, apabila mendapatkan satu gunung emas ia akan mencari gunung emas yang lainnya, dan terus seperti itu sampai tanah memenuhi mulutnya."

Harari menjelaskan bahwa setelah kelaparan, wabah penyakit, dan perang berhasil diubah dari kekuatan alam yang tak terelakkan menjadi tantangan teknis yang dapat dikelola, manusia memerlukan agenda baru (Harari, 2015) yaitu memaksimalkan pengalaman hidup sepenuhnya.

Lantas bagaimana keinginan untuk menjadi dewa itu muncul pada manusia?

Pertama, terjadi pergeseran otoritas dari Tuhan ke manusia (humanisme), karena Revolusi Saintifik dan Revolusi Humanis menggeser sumber makna dari kehendak Tuhan ke pengalaman manusia, sehingga penderitaan dan kematian dipandang sebagai kegagalan yang harus diperbaiki manusia.

Kedua, terjadi pergeseran bertahap dari penyembuhan ke peningkatan (healing to enhancing), ketika teknologi yang awalnya diciptakan untuk menyembuhkan orang sakit, seperti terapi genetik atau stimulasi otak, dengan cepat dialihkan untuk meningkatkan kapasitas orang sehat di atas batas normal.

Ketiga, muncul tekanan kompetisi sosial dan geopolitik, karena ketika sebagian orang tua atau negara memanfaatkan bioteknologi untuk menghasilkan anak atau warga yang lebih cerdas dan kuat, pihak lain merasa terdorong melakukan hal serupa agar tidak tertinggal.

Apa yang ingin dicapai manusia ketika menjadi dewa?

Harari menyebut tiga tujuan utama dalam agenda baru abad ke-21, yaitu keabadian, kebahagiaan, dan keilahian (Harari, 2015). Keabadian berarti mengatasi usia tua dan kematian itu sendiri, sebab kematian tidak lagi dipandang sebagai misteri metafisik atau takdir ilahi, melainkan kegagalan teknis yang membutuhkan solusi medis. Kebahagiaan berarti kepuasan abadi, sehingga manusia bertujuan merekayasa ulang biokimia tubuh dan otaknya agar terbebas dari penderitaan. Keilahian berarti memperoleh kemampuan yang dulu hanya dimiliki dewa-dewa kuno, seperti merancang kehidupan, mengubah bentuk tubuh, dan mengendalikan lingkungan. Jalurnya ada tiga: rekayasa biologis, rekayasa cyborg, dan rekayasa makhluk non-organik, yaitu memindahkan kesadaran atau kecerdasan ke dalam wujud non-organik seperti Artificial Intelligence (AI).

Azizah et al. (2024) mencatat bahwa keberhasilan materi dan teknologi tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan sejati, dengan tingginya angka bunuh diri di negara maju sebagai buktinya. Kramer (2024) menyebut agenda ini melahirkan agama-teknologi baru seperti Techno-humanism dan Dataism, yang menjadikan Internet-of-Things sebagai tuhan baru. Menurut Kramer (2024), usaha menyelamatkan diri sendiri atau hidup dengan bergantung pada teknologi itu mencerminkan dorongan Antikristus.

Dalam gambaran saya, Adam diberikan pengetahuan tentang alam semesta oleh Allah tidak secara langsung, melainkan berangsur-angsur lewat eksplorasi bertahap manusia dalam menghadapi tantangan untuk keberlangsungan hidup mereka di muka bumi. Kurt (2026) mencatat bahwa para mufasir menekankan bahwa yang dianugerahi kepada Adam adalah aspek kapasitas intelektual dan ilmu dalam memaknai nama-nama yang diajarkan. Muhammad Abduh memaknainya sebagai kemampuan penalaran logis dan daya menemukan pengetahuan melalui usaha. Rasyid Ridha memaknainya sebagai fitrah manusia untuk belajar, meneliti, dan menguasai ilmu secara bertahap. Mustafa al-Maraghi menambahkan bahwa manusia dibekali kapasitas untuk belajar sekaligus untuk mengajar dan membagikan ilmu.

Anugerah pengetahuan Tuhan kepada manusia ini memiliki batas yang tidak bisa dilewati lagi setelah manusia mencapainya. Ia akan menjadi penemuan terakhir umat manusia sekaligus mencapai titik untuk menyerupai kuasa Tuhan di bumi bagi orang-orang yang memiliki meja di sana. Penemuan akhir manusia itu adalah komputasi, yang pada saat ini sudah pada tahap kecerdasan buatan. Mengapa komputasi dan AI disebut penemuan terakhir? Karena hampir seluruh teknologi yang datang setelahnya berasal dari pengembangan teknologi ini.

Kenapa saya mengatakan bahwa komputasi adalah ilmu yang mendekati produk Tuhan?

Sebagaimana kita ketahui, Allah menciptakan alam semesta ini dengan sunnatullah, sebuah sistem otomatis yang mengatur alam semesta dengan super presisi. Jika kita renungi baik-baik perkembangan AI, kita bisa sangat mudah melogikakan bagaimana Allah menjawab doa setiap hamba-Nya secara cepat dan tepat, sama seperti AI dapat menjawab ribuan pertanyaan dalam satu waktu secara tepat karena AI menyimpan data pengguna dan mengenalnya dengan baik. Kita bisa membayangkan bagaimana Allah menghisab seluruh manusia di hari kiamat tanpa sedikit pun data yang lenyap dari seorang hamba, sehingga penghisaban berlangsung adil dengan rekam jejak yang autentik, begitu pula AI dan data center yang mampu membaca ribuan data dan menyimpannya secara permanen. Kita juga bisa membayangkan bagaimana solar system bergerak secara otomatis, seperti AI yang dapat menggerakkan mesin secara otomatis. Saya bukan sedang membandingkan Allah dengan makhluk-Nya. Namun saya melihat bahwa perjalanan manusia mengeksplorasi pengetahuan yang dianugerahkan Allah kepadanya sudah berada di batasnya, karena teknologi komputasi hampir mendekati sunnatullah yang Allah tetapkan di alam semesta. Teknologi ini masih berskala bumi, bukan alam semesta, dan masih terus berkembang entah sampai sejauh mana kelak. Ada yang berkata bahwa AI akan menjadi AGI (Artificial General Intelligence), lalu Artificial Superintelligence yang katanya kecerdasannya akan melebihi kecerdasan manusia mana pun dan mengakibatkan kepunahan manusia. Meskipun saya yakin, bumi ini akan terlanjur berakhir sebelum ambisi manusia untuk menguasai alam semesta seluruhnya, atau bahkan hanya untuk sekedar tinggal di Mars.

AI tidak bisa diartikan hanya sebagai chatbot biasa, sebab ia adalah teknologi yang sedang dikembangkan untuk mendigitalisasi seluruh kehidupan manusia. Propaganda & Co. (2015) menjelaskan bahwa AI dihubungkan langsung ke perangkat, jaringan keuangan, dan rumah hingga menjadi sistem operasi dunia melalui data center skala besar dan surveillance capitalism. Data center itu terus-menerus meminum air bersih dan tak akan mati selama manusia-manusia rakus di atas belum binasa. Ketika dunia seluruhnya terdigitalisasi, privasi akan hilang dan seluruh gerak-gerik setiap individu dapat diawasi oleh pihak-pihak yang berkuasa. Menurut Propaganda & Co. (2015), bahaya utama AI bukan pada robot pembunuh berkesadaran, melainkan pada penyerahan keputusan penting peradaban kepada algoritma tanpa jiwa.

Berbeda dari revolusi industri yang menggantikan tenaga fisik, AI mengotomatisasi kerja kognitif seperti pemrograman, analisis, riset, dan desain. Ketika tenaga kerja manusia tidak lagi dibutuhkan, masyarakat kehilangan daya tawar yang selama ini menjadi kekuatan utamanya di hadapan elite penguasa. Investasi masif ke dalam AI pun dipandang sebagai perebutan kepemilikan atas infrastruktur utama peradaban oleh segelintir elite, bukan sekadar perlombaan keuntungan finansial.

Dalam kerangka inilah Dajjal dibicarakan. Coba bayangkan, Firaun dan Namrub saja sudah berani menyatakan dirinya sebagai Tuhan padahal kekuasaannya terbatas pada teritori kerajaannya saja, bagaimana dengan para elit global itu yang wilayah kuasaannya mencakup seluruh dunia?! Maka wajar, apabila Dajjal kelak dengan bangga menyatakan dirinya sebagai Tuhan, karena ia memiliki lebih jauh dari apa yang dimiliki oleh Firaun dan Namrub, yaitu kekuatan super yang mampu mengontrol manusia menuju keinginannya, dan mungkin, jika kita bicara cocoklogi, kekuatan super itu adalah apa yang kita sedang pakai dan kembangkan hari ini yaitu teknologi AI.

Kata Dajjal berakar dari bahasa Arab dajl yang berarti penipuan, pemutarbalikan, atau kebohongan yang menutupi kebenaran (Propaganda & Co., 2015). Zaini (2025) mencatat bahwa mayoritas ulama klasik memahami Dajjal secara harfiah sebagai sosok manusia nyata, sedangkan pendekatan simbolik yang dipelopori Rashid Rida memahaminya sebagai arketipe ketidakadilan sistemik, materialisme, sekularisme, serta eksploitasi sains dan teknologi untuk dominasi geopolitik. Dalam pendekatan simbolik itu, ciri bermata satu ditafsirkan sebagai pandangan dunia yang hanya melihat aspek materialistis-duniawi dan buta terhadap dimensi spiritual (Zaini, 2025). Propaganda & Co. (2015) menyebut Dajjal sebagai sistem kontrol total yang menyamar sebagai keselamatan, tempat kebenaran dan kebohongan dibalikkan serta kelangsungan hidup manusia bergantung pada kepatuhan terhadap sistem. Meskipun pandangan yang benar mengenai Dajjal adalah sosok manusia cacat yang mengaku sebagai Tuhan dan memiliki kemampuan untuk memanipulasi manusia.

Adapun hadist Nabi menegaskan bahwa Dajjal penuh aib, buta sebelah dan berkaki bengkok, sehingga mustahil ia adalah tuhan. Di antara fitnahnya,  ia mampu berpindah secepat angin (yang mungkin saja itu adalah gambaran pesawat jika dihubungkan dengan zaman modern); ia memerintahkan langit menurunkan hujan dan bumi mengeluarkan tumbuhan, lalu harta simpanan bumi mengikutinya seperti lebah-lebah jantan (Tuasikal, 2010). Ia juga membawa dua sungai yang terlihat sebagai air dan api, padahal apinya adalah air dingin, sehingga surga dan neraka tampak terbalik (Tuasikal, 2010; Zaini, 2025). Hadis menganjurkan umat memohon perlindungan Allah dan membaca awal Surah al-Kahf untuk menjaga kejernihan spiritual (Zaini, 2025). Fitnah Dajjal lainnya menyentuh hal yang paling personal, yaitu orang-orang yang telah meninggal. Dajjal menawarkan untuk membangkitkan ayah dan ibu seorang Arab badui, lalu dua setan menjelma dalam rupa keduanya dan menyeru sang anak agar mengikutinya sebagai Rabb (Tuasikal, 2010).

Propaganda & Co. (2015) menyebut teknologi hari ini menunjukkan tiruan serupa yang disebut counterfeit resurrection, yaitu kombinasi jejak digital, model bahasa seperti paten Project Lazarus milik Meta, kloning suara, avatar AI, dan robotika untuk merekonstruksi wajah, suara, kenangan, dan kepribadian orang yang telah meninggal. Rekonstruksi itu bukan kehidupan nyata, melainkan tiruan berbasis pola data yang cukup meyakinkan untuk memanipulasi emosi manusia agar tunduk pada sistem. Sumber yang sama menambahkan bahwa kekuatan Dajjal berpusat pada kontrol atas apa yang dipercayai manusia, apa yang dibutuhkan manusia, dan izin untuk menerimanya. Janji kelimpahan radikal dari para pengembang AI dipandang sebagai inversi ketika neraka disajikan sebagai surga, sebab kelimpahan materi tanpa kedaulatan hanya menciptakan ketergantungan dan perbudakan total. Baik dipahami secara harfiah maupun metaforis, tradisi hadis Dajjal berfungsi sebagai peringatan etis abadi untuk meningkatkan kepekaan moral, ketahanan spiritual, dan keteguhan iman di tengah krisis zaman (Zaini, 2025). Azizah et al. (2024) menegaskan bahwa sains memerlukan bimbingan etis dan spiritual agar tidak destruktif. Inilah yang saya sampaikan sejak awal: keinginan memaksimalkan potensi yang tidak dibimbing wahyu menjadikan manusia tamak dan mencari cara apa pun untuk meraihnya.

Kita tidak harus menghindari penggunaan AI, bahkan tulisan ini dibantu oleh AI dalam penyusunannya. Sebab kita memang membutuhkannya dan sudah sejak lama kita masuk ke dalam permainan elit global. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah tentunya menjawab pertanyaan yang disampaikan Nabi, “Apa yang kamu persiapkan untuk hari kiamat?” dan jawabannya adalah memperbaiki diri di hadapan Allah.

Kemunculan AI benar-benar seperti sedang menunjukkan bahwa kita berada di musim akhir dunia: pasokan air menurun drastis, gempa dan perang di mana-mana, namun para elit tetap berkuasa, mereka seperti sedang menyiapkan panggung untuk Sang Ujian Terakhir: Dajjal.

Daftar Pustaka

Azizah, N., Habibi, J., Maria, G., & Shuhada, M. A. R. (2024). Homo Deus: The Islamic critical approach to the new agenda of humanity according to Harari. Kanz Philosophia: A Journal for Islamic Philosophy and Mysticism, 10(2), 251–268. https://doi.org/10.20871/kpjipm.v10i2.367

Harari, Y. N. (2018). Homo Deus: Masa depan umat manusia (Y. Musthofa, Trans.). PT Pustaka Alvabet. (Karya asli diterbitkan 2015)

Hussain, S. (2025). Adam and the names. Bulletin of the School of Oriental and African Studies, 88(1), 1–26. https://doi.org/10.1017/S0041977X24000600

Kramer, E. J. D. (2024). The difference Jesus makes: Yuval Noah Harari and Wolfhart Pannenberg on the shape of universal history. International Journal of Systematic Theology, 26, 216–236. https://doi.org/10.1111/ijst.12659

Kurt, M. E. (2026). Hazreti Âdem’e öğretilen isimler hakkında Islâhî tefsir ekolü’nün görüşleri: Abduh, Reşîd Rızâ, Merâği. Mersin İlahiyat Dergisi, 2, 1–16. https://izlik.org/JA28TK43RL

Tuasikal, M. A. (2010, December 2). Munculnya Dajjal (3), berbagai fitnah Dajjal. Rumaysho.com. https://rumaysho.com/1431-munculnya-dajjal-3.html

Zaini, M. (2025). The Dajjal in Islamic prophetic tradition: Between literalism and symbolic interpretation. El-Sunan: Journal of Hadith and Religious Studies, 3(1), 37–50. https://doi.org/10.22373/el-sunan.v3i1.7660

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melepas Penutup Mata (Sebuah Cerpen Kritik Sosial)

Saat Upaya Preventif Justru Membuka Celah: Paradoks Narasi Salafi terhadap Syiah di YouTube Pasca Konflik Iran-Israel