Saat Upaya Preventif Justru Membuka Celah: Paradoks Narasi Salafi terhadap Syiah di YouTube Pasca Konflik Iran-Israel

Gambar
  Bayangkan Anda seorang dokter yang datang ke kerumunan orang yang sedang menangis karena menyaksikan kebakaran besar di kampung tetangga. Di tengah kesedihan itu, alih-alih ikut berduka atau membantu memadamkan api, Anda justru berteriak: "Hati-hati, jangan minum obat tradisional!" Apa yang terjadi? Kemungkinan besar, orang-orang itu bukan hanya mengabaikan Anda—mereka akan marah, dan sebagian mulai bertanya-tanya: sebenarnya dokter ini berpihak pada siapa? Inilah, kira-kira, yang terjadi di kolom komentar YouTube Indonesia pasca konflik Iran-Israel 2026. Sebuah penelitian akademis menganalisis 2.689 komentar dari enam video YouTube bertema Salafi-Syiah dan menemukan sesuatu yang mengejutkan: semakin keras kelompok Salafi mengkampanyekan bahaya Syiah, semakin kuat pula simpati netizen terhadap Syiah. Pesan yang dimaksudkan sebagai vaksin justru berfungsi sebagai katalis. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Ketika Iran melancarkan serangan ke Israel pada awal 2026, mayoritas Muslim...

Antologi Puisi "Bayangan Sepanjang Desember"

 Saat terjadi bencana yang menimpa kampung halaman penulis, dia merasakan hampa dan khawatir. Saat muncul banyak puisi mengenai bencana itu, penulis bertekad untuk menciptakan pula karya puisi sebagai pelampisan dari rasa hampa pada zona sekelilingnya. Puisi itu ingin ia jadikan dalam waktu yang singkat tapi menghasilkan karya yang banyak. akhirnya penulis bertekad untuk menulis “satu hari, satu puisi” pada bulan Desember yang melukiskan hari demi hari di bulan itu atau menggambarkan isi hatinya yang ingin bersuara tapi tak mampu.

Desember adalah bulan penuh cerita dalam hidupnya, dari masa ke masa, dan puisi adalah jalan untuk mengenangnya. Bayangan adalah benda tak terjamah namun menyertai bagai kenangan yang tak teraba namun menghantui. Dari ketidakpercayaan diri penulis dan sulitnya menjelaskan sebuah peristiwa ini menghasilkan puisi abstrak, sulit dipaham mungkin, tapi makna dalam dapat diselami.

"Akhir-akhir ini langit sore terlihat indah

Warna kuning keemasan terpancar sudah

Menerpa wajahku yang terkesima

Bersama hembus hawa, terpana


Mungkin langit sedang menghibur

Warga bumi yang kesulitan

Diguncang bencana

Kehilangan bayang


Bayangan tanda keberadaan

Meski tak dapat diraih layak fatamorgana

Namun itu jadikan tanda kehidupan

Bahwa nyawamu masih di kandung badan"

        Meski puisi kadang kala tak butuh untuk dicermati, tapi bagi penyelam rasa, puisi dapat menjadi palung baru yang rumit dan gelap namun dapat menemukan hal indah di sana yang belum pernah ia baca. Puisi dapat dinikmati oleh hati yang teduh. Penulis pun tak peduli dengan gaya dan cara “apakah puisi ini sesuai kaidah atau tidak?” Karena ungkapan hati adalah kebebasan dan tak terpatok oleh kaidah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melepas Penutup Mata (Sebuah Cerpen Kritik Sosial)

Saat Upaya Preventif Justru Membuka Celah: Paradoks Narasi Salafi terhadap Syiah di YouTube Pasca Konflik Iran-Israel

Pemilu (dari mata orang sok tahu)