Saat Upaya Preventif Justru Membuka Celah: Paradoks Narasi Salafi terhadap Syiah di YouTube Pasca Konflik Iran-Israel

Gambar
  Bayangkan Anda seorang dokter yang datang ke kerumunan orang yang sedang menangis karena menyaksikan kebakaran besar di kampung tetangga. Di tengah kesedihan itu, alih-alih ikut berduka atau membantu memadamkan api, Anda justru berteriak: "Hati-hati, jangan minum obat tradisional!" Apa yang terjadi? Kemungkinan besar, orang-orang itu bukan hanya mengabaikan Anda—mereka akan marah, dan sebagian mulai bertanya-tanya: sebenarnya dokter ini berpihak pada siapa? Inilah, kira-kira, yang terjadi di kolom komentar YouTube Indonesia pasca konflik Iran-Israel 2026. Sebuah penelitian akademis menganalisis 2.689 komentar dari enam video YouTube bertema Salafi-Syiah dan menemukan sesuatu yang mengejutkan: semakin keras kelompok Salafi mengkampanyekan bahaya Syiah, semakin kuat pula simpati netizen terhadap Syiah. Pesan yang dimaksudkan sebagai vaksin justru berfungsi sebagai katalis. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Ketika Iran melancarkan serangan ke Israel pada awal 2026, mayoritas Muslim...

Melepas Penutup Mata (Sebuah Cerpen Kritik Sosial)

Di atas ladang padi, sebuah gubuk reyot bercerita dengan riwayat dari bisikan setan yang terkutuk. Dihinggapi petani renta, hidupnya jauh dari agama, pencuri yang menafkahi anaknya dengan harta haram hingga ia pun tumbuh menjadi pelacur bagi pria tua.

Gadis itu, dengan pisau di tangan kanannya, hendak menusuk tokoh kami. Malang nasibnya, ia terkapar dan tak berdaya.

Sebelumnya, ayahnya itu berjalan di malam buta, tak seperti biasa, ia tegap dan bergegas. Mungkin, ia hendak merampok tanpa ampun.

Ia tertahan di rumah pak kiyai. Kami layangkan pukul hingga masuk ke liang lahat.

“Bajingan! Sia hayang ngarampok kiyai aing!”

Satu tiupan angin lagi bisa merobohkan gubuk itu, bilamana gadis pelacur itu pula kami singkirkan. Awalnya, kami ingin membakarnya, tapi biarkanlah ia menjadi bangkai bernyawa, menerima lara batin yang tiada tara, dan mati dengan sendirinya.

***

“Bu, mungkin dalam waktu lama aku tak pulang.” Ujar Tika memohon maaf.

“Semangat ya nak, terkadang mimpi dikejar lewat perpisahan.” Balas Bu Sali merelakan anaknya, dengan mata yang berkaca-kaca dan hati yang gagap.

Tika bersiap, duduk di pelataran rumah, mengikat sepatu, dan memikul beban ilmu.

“Bu, temanku itu tolong diperhatikan. Kasihan dia harus hidup seperti itu.” Mohon Tika sebelum pamit.

“Iya, nak. Ibu akan berusaha.” Jawab Bu Sali lirih.

“Abaikan isu yang tak bernalar. Manusia dengan dosanya tetaplah manusia yang butuh cinta, setidaknya butuh asupan untuk tetap hidup.”

***

Malam melambat, mata berbinar oleh dendam yang menanti fajar keadilan. Aku yakin Tuhan selalu ada untuk hamba-Nya yang tertindas.

Dia menjanjikanku taman surga, tapi tangan sucinya menyeretku pada tanah neraka. Mulutnya yang wangi itu, oleh hidungku, tercium jelas bau busuk hatinya.

***

Secercah cahaya menyusup di sela anyaman dinding bambu. Aku terbangun, dari tidur singkat di atas kayu yang berparut. Dendam itu ada, tapi harapan itu lenyap. Mentari menyingkap luka yang tak kunjung sembuh.

Embun putih masih hinggap di atas pucuk padi yang mulai layu, dan burung-burung.. betapa bahagianya mereka bernyanyi menyambut harinamun aku tak terpanggil.

Ragaku sudah cukup melukiskan jiwa yang pasrah.

Dunia di luar masih sama: suram, kejam, dan asing. Tak ada lagi cinta yang memelukku, kecuali Tuhan.. hanya Dia yang tahu betapa makna hidup adalah menunggu mati.

***

Pagi itu, perutku merintih seperti bayi. Aku tak sanggup lagi menunggu. Jika diam menunggu jawaban takdir, mungkin lambung ini akan sekering batinku.

Aku ayunkan langkah ke kampung, dunia paling kejam dan penduduk paling bengis. Aku tinggalkan ia demi menutupi malu dan berlindung dari goresan tajam, namun kini aku paksakan demi sesuap nasi. Mungkin, ada bunga mawar di balik rawa duri.

Hati berdarah. Mata-mata menghujam seperti panah, buah bibir yang getir.

Aku lumpuh, tapi aku kuatkan demi menidurkan lambung yang berisik.

Kutemui sosok yang pernah memberiku makanwajahnya tak asing, meski namanya tak kukenal. Ketika kupanggil, “Bu, abdi hoyong tuang?

Ia terkejut malu, mendorongku dan membentak, “Ngajedog! Bocah tolol!”

Bumi terasa terbelah. Aku lari, bersandar di pohon tua. Menutupi wajah yang basah oleh tangisan.

“Aku ingin pergi dari dunia ini!” Jeritku pada semesta.

Tiba-tiba sebuah suara halus datang, “Nak.. nak..”

Kulirik samar.

Hapunteun ibu nya.. tadi ibu malu.. ayo, ikut pulang.”

***

Dua hari silam..

Sebuah villa di sudut kampung dipenuhi kidung lembut dan lirih doa. Para pelajar Nasrani duduk bersimpuh dalam syahdu, menyimak kasih Tuhan dari lembaran-lembaran Al-Kitab. Di hadapan mereka, terpancang kayu salib yang damaitak mengusik siapa pun.

Namun, seketika suasana berubah. Langit-langit bergetar.

Seorang kiyai berjubah putih berdiri tinggi, suaranya menggelegar menepis nurani, membakar alkohol dari para pemabuk agama. “Villa ini telah digunakan untuk ritual selain dari kita! Mereka tak berizin!”

Amarah warga yang tersulut melayangkan batu-batu, memecahkan jendela, dan mengubah doa menjadi jeritan geram.

Para pelajar kabur ketakutan, berlindung di bilik sempit. Sang pendeta tak kuasa menahan gelombang keyakinan tanpa empati.

Kayu salib itu terkoyakkan oleh tangan sesama bangsa. Diangkat, dilempar, diinjak.

“Inilah akhir dari syirik dan kesesatan!”

***

“Ibu siapkan makanan untukmu, kamu mandi dulu, nak.” Suaranya lembut seperti sosok ibu yang tak pernah kulihat.

Hatur nuhun, bu.” Hanya dua kata, tapi bagai angin segar di lereng bukit.

Di kamar mandi, aku menyentuh sabun dengan haru.

Rambutku lurus, kulitku wangi, dan untuk pertama kalinya aku melihat diriku tanpa rasa jijik.

Hidangan telah tersaji di meja makan: pecel ayam, sambal terasi, nasi hangat. Kudapan sederhana yang paling berharga, sebab disajikan dengan hormat.

“Ibu tahu perihalmu.. tapi kau tak punya bukti, nak. Ia terpandang. Aku menampungmu.. karena kasihan.”

Air mata hampir menetes, tapi kugenggam sedihku. “Ibu.. mungkinkah santriwati menggoda gurunya? Untuk apa aku mencintai lelaki setua dia?”

Kutinggikan bajuku perlahan, nampak jelas luka panjang di perutku. “Ini, bu. Bekas kekerasan yang abadi.”

“Bukankah kamu sendiri yang hendak membunuhnya demi balaskan dendam atas ayahmu?”

***

Berita terkini: seorang kiyai bernama Sami ditangkap oleh pihak kepolisian atas dugaan tindakan provokatif dan persekusi terhadap kaum minoritas di kampung Ciutas. Kiyai Sami akan disidang dan jika terbukti salah, maka ia akan dihukumi setidaknya paling singkat 5 tahun penjara.

Suara reporter memberitakan dari televisi yang menyala di ruang tamu, ibu Sali bergumam, “Kiyai Sami dipidana, padahal tindakannya sudah benar.”

Perlahan aku menoleh, suaraku tercekat, tapi aku coba tegaskan.

“Ibu, kenapa kau membenarkannya? Apakah karena sorbannya? Jika ia benar-benar alim, kenapa hukum dunia menolaknya?”

Terkejut dan menoleh tajam padaku, ibu Sali kecewa.

“Kau tak sopan, nak! Di mana rasa seganmu?”

“Ibu.. andai anak ibu adalah korbannya, apakah kau tetap memujanya? Apakah kau akan berteriak seperti ayahku hingga tewas dibungkam?”

Membisu seribu kata. Wajahnya suram. Ibu Sali tak percaya, masih menyimpan noda padaku. Tangannya bergetar, mematikan televisi, dan duduk di kayu rotan.

Aku melangkah perlahan, duduk di hadapannya. Menatap matanya yang mulai meruntuhkan keyakinan.

“Ibu.. kau adalah anugerah atas pasrahku pada Tuhan. Tolonglah aku menjemput kembali masa depanku.. tolonglah aku membersihkan kembali citraku.. aku gadis delapan belas tahun yang dunianya telah dirampasdan aku ingin merebutnya kembali.”

Bibir bu Sali menggeligis, seperti tak menyangka tokohnya dilucuti. Ia mencoba membuka hati. “Nak.. selama ini aku hanya dengar perihalmu dari bisik-bisik kampung.. tapi tak pernah mendengar langsung dari luka yang kau rawat sendiri.. sudikah kau bercerita padaku?”

***

“Ibuku memberikan napasnya demi hidupku. Ayahku petani miskin. Tangannya lebih akrab dengan cangkul ketimbang pena. Hidup kami hanyalah umpana benang tipis yang berdansa antara angin lapar dan hujan hampa.

Terdesak membuat ayah harus mencuri ke kampung. Ia banyak menyesali itu. Ia rajin sembahyang dan mengaji, juga mengajariku baca-tulis lewat potongan surat kabar. Ia ingin aku tak lagi memilah padi, tapi merajut mimpi.

Ayah mendambakan surga untukku.

Satu tahu silam, ayam menitipkanku pada pak kiyai, walau tak pernah mendengar satu patah ceramah pun dari mulutnya, sebab sibuk di ladang. Di bawah bimbingannya, ia berharap aku menjadi wanita yang dekat dengan Tuhannya.

Suatu malam, langit begitu pekat, awan halangi cahaya rembulan. Sang kiyai ceramah begitu panjang lebar, melebihi batas wajar.

Seusai mengaji, aku hendak pulang, namun kiyai itu berujar, “Rumahmu terlampau jauh, Renna. Tidurlah di rumahku malam ini.” Karena kepercayaanku padanya, aku manut seperti hewan ternak.

Rumahnya sunyi, hanya suara detik jam. Buku-buku tersusun di rak lemari. Foto keluarga dan kaligrafi menghiasi dinding.

Ia bilang keluarganya sedang safar.

Aku ditempatkan di kamar tamu, sebelah kanan dari pintu utama. Ranjang besi berdenyit dan dinding kayu merintih disentuh angin

Aku tertidur.

Namun, malam berubah kelam.

Denyit pintu membangunkanku. Ia berdiri seperti hantu, membayang di ambang gelap, lalu duduk di sampingku. Jemarinya merayap di muka, bukan seperti guru, juga seorang ayah.

“Terimalah aku.” Bisiknya halus.

“Ini dosa, pak kiyai..”

“Serahkan segalanya untuk gurumu.”

Tangan membungkam mulutku. Tubuh menindih. Memetik bunga malu yang semestinya dijaga. Aku berteriak, tapi ragaku kalah oleh iman yang dusta.

Ia panik, mengunciku. Tapi jendela lupa ia kunci. Aku melompak bak burung yang terhempas. Aku pulang dengan tubuh yang sobek dan jiwa yang tak utuh.

Ayah terkejut oleh nafas kecangku dan ragaku yang menyirat kisah kelam.

Kubisikkan di telinganya sambil merintih. Ia meledak, berlari menuju rumah sang kiyai dengan mata merah seperti bara api.

Tapi.. ia tak kunjung kembali. Tubuhnya sudah rebah di lahap tanah.

Sejak saat itu, aku kehilangan cinta, dan kampung. Kiyai mencemari namaku dari mimbar ke mimbar. Menuduhku pelacur dan anak pencuri.

Tiga bulan berseling. Perutku menegang. Nyawa terkandung dalam badan. Sebuah gumpalan darah daging dari malam paling gulita dalam hidupku. Dosa orang ‘suci’ yang tersimpan di dalam rahim ini butuh pertanggungjawaban.

Aku menggenggam pisau, ingin menggertak adil.

“Pak kiyai, ada darahmu di rahim ini..” Dengan sedikit tegas.

“Di mana pertanggung..” Ia tuli, ia hanya melihat pisau di tanganku. Sebuah pukulan sekeras kayu mendarat di rahimku. Hangat, lengket, perih. Darah mengalir di kemaluanku.

“Ada pembunuh di rumahku!” Teriak sang kiyai pada warga.

Aku rebah, masihkan hidup berpihak padaku?

Tubuhku diseret, dibuang seperti sampah. Mereka lebih percaya pada jubah daripada darah.

Tengah malam, bintang bersinar terang. Hanya pada Tuhan diriku berlabuh.

Aku bangkai hidup.

Diberi makan hanya untuk tetap bernapas, bukan karena kasih.

Namun, aku di sini bukan meminta belas kasih. Aku membawa luka yang ingin bersuara. Aku ingin lepaskan penutup mata agar mereka bisa melihat kebenaran.

Aku, Renna. Bukan pelacur. Hanya gadis malang yang direnggut oleh jiwa yang berselimut takwa.”

“Laporlah ke polisi, nak!”

“Aku tak ingin mengurusi berkas.” Ujarku, dengan mata tajam melihat dunia yang kejam.

“Aku ingin dunia mendengar luka ini. Bukan lewat surat, tapi lewat mimbar pengadilan. Seret aku ke sidang!”

***

Kiyai Sami masih dengan modelnya yang berlagak suci, duduk di kursi pesakitan dengan tangan diborgol. Di hadapan hakim dunia, wajahnya tegang, dan aku yakin ia tak sanggup berdiri di hadapan Hakim akhirat.

“Saudara kiyai Sami,” ujar hakim dengan lugas.

“Anda telah terbukti salah dalam tindakan intoleransi, provokasi, dan persekusi terhadap kaum minoritas di kampung Ciutas.”

Suara ketuk palu bergemuruh.

“Dihukum sepuluh tahun penjara.”

Ruang sidang gaduh, kamera berkilat. Aku masih bersiaga, di balik pagar pembatas, dengan jantung terpacu. Bu Sali memegang erat tanganku, mengangguk. “Ini saatnya, nak.”

“Yang mulia, pak hakim!” Teriakku.

Hening, semua lensa berbalik menyorotku.

“Saya tahu ini melanggar tata tertib.. tapi izinkan saya menyuarakan luka!”

Hakim kembali duduk. “Bicara.”

“Kiyai Sami. Aku, Renna. Muridmu. Anak petani yang kau janjikan surga. Apakah jubah putihmu sudah cukup tebal untuk tutupi dosa? Apakah Tuhan akan berpihak hanya karena kau rajin mengaji?

Hari ini negara menuntutmu karena menodai salib mereka.

Tapi aku, menuntutmu atas bunga malu yang dicabik, rahim yang dibisukan oleh darah, dan ayah yang dibungkam dengan nyawa.. lalu kau membuangku, melumpuri namaku dengan najis yang kau buat sendiri.”

Kiyai Sami berteriak, “Dia pendusta! Pelacur! Anak Perampok!”

Dengan tenang, aku mengangkat baju, menampakkan luka pada dunia.

“Luka ini, adalah nisan dari bayi tak bernama. Bukan dusta yang bisa kau bantah dengan dalil, dan bukti.. bahwa terkadang, setan bersorban dan berjenggot.

Dan bahwa.. Tuhan itu adil.”

Ruang sidang terdiam. Suasana berubah haru.

Hakim mengangguk pelan.

“Sidang dilanjutkan esok untuk menelusuri kejahatan lainnya dari terdakwa.”

***

Obor menjilat langit, membakar malam yang murka.

Warga dikhianati.

Rumah sang kiyai runtuh, menjadi altar pembakaran. Perlahan sorban itu hangus, dilahap api dosa. Salib itu tidak bertindak, tapi penindasan akan dibalas setimpal.

***

Pagi buta, Bu Sali mengabarkanku bahwa suaraku menjalar di layar-layar.

Viral.

Mendorong korban lain untuk bersuara. Agama tersucikan dari para pendusta.

Seketika terdengar suara ketukan pintu. Aku membuka.

“Selamat pagi, aku pendeta Alex.” Tersenyum dan teduh.

“Tuhan telah mengasihimu, adakah kau mau berjalan bersama kami?” Ajaknya saat kami berbincang di ruang tamu.

“Aku hidup bersama padi, lambang keadilan bagi sesama. Aku berduka atas kejadian itu.

Tapi Ayah berpesan saat hendak mengantarku mengaji, ‘Nak.. aku mendambakan surga untukmu. Jika ayah tiada, carilah ayah di neraka.

Pelajari Islam dari hakikatnya, tidak lagi sosoknya; sebab hakikat tidak akan salah, sedang sosok hanyalah manusia pendosa.’

Aku, muslim, dari lahir.. hingga lahat.”

                                                                                                        gifaritaufani, 20/07/2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemilu (dari mata orang sok tahu)

Manipulasi Angka (Mencari Esensi Ujian dan Meluruskan Keliru)