Melepas Penutup Mata (Sebuah Cerpen Kritik Sosial)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Di atas ladang padi, sebuah gubuk reyot bercerita dengan riwayat dari bisikan setan yang terkutuk. Dihinggapi petani renta, hidupnya jauh dari agama, pencuri yang menafkahi anaknya dengan harta haram hingga ia pun tumbuh menjadi pelacur bagi pria tua.
Gadis itu, dengan pisau di tangan kanannya, hendak
menusuk tokoh kami. Malang nasibnya, ia terkapar dan tak berdaya.
Sebelumnya, ayahnya itu berjalan di malam buta, tak
seperti biasa, ia tegap dan bergegas. Mungkin, ia hendak merampok tanpa ampun.
Ia tertahan di rumah pak kiyai. Kami layangkan pukul
hingga masuk ke liang lahat.
“Bajingan! Sia hayang ngarampok kiyai aing!”
Satu tiupan angin lagi bisa merobohkan gubuk itu,
bilamana gadis pelacur itu pula kami singkirkan. Awalnya, kami ingin
membakarnya, tapi biarkanlah ia menjadi bangkai bernyawa, menerima lara batin
yang tiada tara, dan mati dengan sendirinya.
***
“Bu, mungkin dalam waktu lama aku tak pulang.” Ujar Tika
memohon maaf.
“Semangat ya nak, terkadang mimpi dikejar lewat
perpisahan.” Balas Bu Sali merelakan anaknya, dengan mata yang berkaca-kaca dan
hati yang gagap.
Tika bersiap, duduk di pelataran rumah, mengikat sepatu,
dan memikul beban ilmu.
“Bu, temanku itu tolong diperhatikan. Kasihan dia harus
hidup seperti itu.” Mohon Tika sebelum pamit.
“Iya, nak. Ibu akan berusaha.” Jawab Bu Sali lirih.
“Abaikan isu yang tak bernalar. Manusia dengan dosanya
tetaplah manusia yang butuh cinta, setidaknya butuh asupan untuk tetap hidup.”
***
Malam melambat, mata berbinar oleh dendam yang menanti
fajar keadilan. Aku yakin Tuhan selalu ada untuk hamba-Nya yang tertindas.
Dia menjanjikanku taman surga, tapi tangan
sucinya menyeretku pada tanah neraka. Mulutnya yang wangi itu, oleh hidungku,
tercium jelas bau busuk hatinya.
***
Secercah cahaya menyusup di sela anyaman dinding bambu.
Aku terbangun, dari tidur singkat di atas kayu yang berparut. Dendam itu ada,
tapi harapan itu lenyap. Mentari menyingkap luka yang tak kunjung sembuh.
Embun putih masih hinggap di atas pucuk padi yang mulai
layu, dan burung-burung.. betapa bahagianya mereka bernyanyi menyambut hari—namun aku tak
terpanggil.
Ragaku sudah cukup melukiskan jiwa yang pasrah.
Dunia di luar masih sama: suram, kejam, dan asing. Tak
ada lagi cinta yang memelukku, kecuali Tuhan.. hanya Dia yang tahu betapa makna
hidup adalah menunggu mati.
***
Pagi itu, perutku merintih seperti bayi. Aku tak sanggup
lagi menunggu. Jika diam menunggu jawaban takdir, mungkin lambung ini akan
sekering batinku.
Aku ayunkan langkah ke kampung, dunia paling kejam dan
penduduk paling bengis. Aku tinggalkan ia demi menutupi malu dan berlindung
dari goresan tajam, namun kini aku paksakan demi sesuap nasi. Mungkin, ada
bunga mawar di balik rawa duri.
Hati berdarah. Mata-mata menghujam seperti panah, buah
bibir yang getir.
Aku lumpuh, tapi aku kuatkan demi menidurkan lambung yang
berisik.
Kutemui sosok yang pernah memberiku makan—wajahnya tak
asing, meski namanya tak kukenal. Ketika kupanggil, “Bu, abdi hoyong tuang?”
Ia terkejut malu, mendorongku dan membentak, “Ngajedog!
Bocah tolol!”
Bumi terasa terbelah. Aku lari, bersandar di pohon tua.
Menutupi wajah yang basah oleh tangisan.
“Aku ingin pergi dari dunia ini!” Jeritku pada semesta.
Tiba-tiba sebuah suara halus datang, “Nak.. nak..”
Kulirik samar.
“Hapunteun ibu nya.. tadi ibu malu.. ayo, ikut
pulang.”
***
Dua hari silam..
Sebuah villa di sudut kampung dipenuhi kidung lembut dan
lirih doa. Para pelajar Nasrani duduk bersimpuh dalam syahdu, menyimak kasih
Tuhan dari lembaran-lembaran Al-Kitab. Di hadapan mereka, terpancang kayu salib
yang damai—tak mengusik siapa pun.
Namun, seketika suasana berubah. Langit-langit bergetar.
Seorang kiyai berjubah putih berdiri tinggi, suaranya
menggelegar menepis nurani, membakar alkohol dari para pemabuk agama. “Villa
ini telah digunakan untuk ritual selain dari kita! Mereka tak berizin!”
Amarah warga yang tersulut melayangkan batu-batu,
memecahkan jendela, dan mengubah doa menjadi jeritan geram.
Para pelajar kabur ketakutan, berlindung di bilik sempit.
Sang pendeta tak kuasa menahan gelombang keyakinan tanpa empati.
Kayu salib itu terkoyakkan oleh tangan sesama bangsa.
Diangkat, dilempar, diinjak.
“Inilah akhir dari syirik dan kesesatan!”
***
“Ibu siapkan makanan untukmu, kamu mandi dulu, nak.”
Suaranya lembut seperti sosok ibu yang tak pernah kulihat.
“Hatur nuhun, bu.” Hanya dua kata, tapi bagai
angin segar di lereng bukit.
Di kamar mandi, aku menyentuh sabun dengan haru.
Rambutku lurus, kulitku wangi, dan untuk pertama kalinya
aku melihat diriku tanpa rasa jijik.
Hidangan telah tersaji di meja makan: pecel ayam, sambal
terasi, nasi hangat. Kudapan sederhana yang paling berharga, sebab disajikan
dengan hormat.
“Ibu tahu perihalmu.. tapi kau tak punya bukti, nak. Ia
terpandang. Aku menampungmu.. karena kasihan.”
Air mata hampir menetes, tapi kugenggam sedihku. “Ibu..
mungkinkah santriwati menggoda gurunya? Untuk apa aku mencintai lelaki setua
dia?”
Kutinggikan bajuku perlahan, nampak jelas luka panjang di
perutku. “Ini, bu. Bekas kekerasan yang abadi.”
“Bukankah kamu sendiri yang hendak membunuhnya demi
balaskan dendam atas ayahmu?”
***
Berita terkini: seorang kiyai bernama Sami
ditangkap oleh pihak kepolisian atas dugaan tindakan provokatif dan persekusi
terhadap kaum minoritas di kampung Ciutas. Kiyai Sami akan disidang dan jika
terbukti salah, maka ia akan dihukumi setidaknya paling singkat 5 tahun
penjara.
Suara reporter memberitakan dari televisi yang menyala di
ruang tamu, ibu Sali bergumam, “Kiyai Sami dipidana, padahal tindakannya sudah
benar.”
Perlahan aku menoleh, suaraku tercekat, tapi aku coba
tegaskan.
“Ibu, kenapa kau membenarkannya? Apakah karena sorbannya?
Jika ia benar-benar alim, kenapa hukum dunia menolaknya?”
Terkejut dan menoleh tajam padaku, ibu Sali kecewa.
“Kau tak sopan, nak! Di mana rasa seganmu?”
“Ibu.. andai anak ibu adalah korbannya, apakah kau tetap
memujanya? Apakah kau akan berteriak seperti ayahku hingga tewas dibungkam?”
Membisu seribu kata. Wajahnya suram. Ibu Sali tak
percaya, masih menyimpan noda padaku. Tangannya bergetar, mematikan televisi,
dan duduk di kayu rotan.
Aku melangkah perlahan, duduk di hadapannya. Menatap
matanya yang mulai meruntuhkan keyakinan.
“Ibu.. kau adalah anugerah atas pasrahku pada Tuhan.
Tolonglah aku menjemput kembali masa depanku.. tolonglah aku membersihkan
kembali citraku.. aku gadis delapan belas tahun yang dunianya telah dirampas—dan aku ingin
merebutnya kembali.”
Bibir bu Sali menggeligis, seperti tak menyangka tokohnya
dilucuti. Ia mencoba membuka hati. “Nak.. selama ini aku hanya dengar perihalmu
dari bisik-bisik kampung.. tapi tak pernah mendengar langsung dari luka yang
kau rawat sendiri.. sudikah kau bercerita padaku?”
***
“Ibuku memberikan napasnya demi hidupku. Ayahku petani
miskin. Tangannya lebih akrab dengan cangkul ketimbang pena. Hidup kami
hanyalah umpana benang tipis yang berdansa antara angin lapar dan hujan hampa.
Terdesak membuat ayah harus mencuri ke kampung. Ia banyak
menyesali itu. Ia rajin sembahyang dan mengaji, juga mengajariku baca-tulis
lewat potongan surat kabar. Ia ingin aku tak lagi memilah padi, tapi merajut
mimpi.
Ayah mendambakan surga untukku.
Satu tahu silam, ayam menitipkanku pada pak kiyai, walau
tak pernah mendengar satu patah ceramah pun dari mulutnya, sebab sibuk di
ladang. Di bawah bimbingannya, ia berharap aku menjadi wanita yang dekat dengan
Tuhannya.
Suatu malam, langit begitu pekat, awan halangi cahaya
rembulan. Sang kiyai ceramah begitu panjang lebar, melebihi batas wajar.
Seusai mengaji, aku hendak pulang, namun kiyai itu berujar,
“Rumahmu terlampau jauh, Renna. Tidurlah di rumahku malam ini.” Karena
kepercayaanku padanya, aku manut seperti hewan ternak.
Rumahnya sunyi, hanya suara detik jam. Buku-buku tersusun
di rak lemari. Foto keluarga dan kaligrafi menghiasi dinding.
Ia bilang keluarganya sedang safar.
Aku ditempatkan di kamar tamu, sebelah kanan dari pintu
utama. Ranjang besi berdenyit dan dinding kayu merintih disentuh angin
Aku tertidur.
Namun, malam berubah kelam.
Denyit pintu membangunkanku. Ia berdiri seperti hantu,
membayang di ambang gelap, lalu duduk di sampingku. Jemarinya merayap di muka,
bukan seperti guru, juga seorang ayah.
“Terimalah aku.” Bisiknya halus.
“Ini dosa, pak kiyai..”
“Serahkan segalanya untuk gurumu.”
Tangan membungkam mulutku. Tubuh menindih. Memetik bunga
malu yang semestinya dijaga. Aku berteriak, tapi ragaku kalah oleh iman yang
dusta.
Ia panik, mengunciku. Tapi jendela lupa ia kunci. Aku
melompak bak burung yang terhempas. Aku pulang dengan tubuh yang sobek dan jiwa
yang tak utuh.
Ayah terkejut oleh nafas kecangku dan ragaku yang
menyirat kisah kelam.
Kubisikkan di telinganya sambil merintih. Ia meledak,
berlari menuju rumah sang kiyai dengan mata merah seperti bara api.
Tapi.. ia tak kunjung kembali. Tubuhnya sudah rebah di
lahap tanah.
Sejak saat itu, aku kehilangan cinta, dan kampung. Kiyai
mencemari namaku dari mimbar ke mimbar. Menuduhku pelacur dan anak pencuri.
Tiga bulan berseling. Perutku menegang. Nyawa terkandung
dalam badan. Sebuah gumpalan darah daging dari malam paling gulita dalam
hidupku. Dosa orang ‘suci’ yang tersimpan di dalam rahim ini butuh
pertanggungjawaban.
Aku menggenggam pisau, ingin menggertak adil.
“Pak kiyai, ada darahmu di rahim ini..” Dengan sedikit
tegas.
“Di mana pertanggung..” Ia tuli, ia hanya melihat pisau
di tanganku. Sebuah pukulan sekeras kayu mendarat di rahimku. Hangat, lengket,
perih. Darah mengalir di kemaluanku.
“Ada pembunuh di rumahku!” Teriak sang kiyai pada warga.
Aku rebah, masihkan hidup berpihak padaku?
Tubuhku diseret, dibuang seperti sampah. Mereka lebih
percaya pada jubah daripada darah.
Tengah malam, bintang bersinar terang. Hanya pada Tuhan
diriku berlabuh.
Aku bangkai hidup.
Diberi makan hanya untuk tetap bernapas, bukan karena
kasih.
Namun, aku di sini bukan meminta belas kasih. Aku membawa
luka yang ingin bersuara. Aku ingin lepaskan penutup mata agar mereka bisa
melihat kebenaran.
Aku, Renna. Bukan pelacur. Hanya gadis malang yang
direnggut oleh jiwa yang berselimut takwa.”
“Laporlah ke polisi, nak!”
“Aku tak ingin mengurusi berkas.” Ujarku, dengan mata
tajam melihat dunia yang kejam.
“Aku ingin dunia mendengar luka ini. Bukan lewat surat,
tapi lewat mimbar pengadilan. Seret aku ke sidang!”
***
Kiyai Sami masih dengan modelnya yang berlagak suci,
duduk di kursi pesakitan dengan tangan diborgol. Di hadapan hakim dunia,
wajahnya tegang, dan aku yakin ia tak sanggup berdiri di hadapan Hakim akhirat.
“Saudara kiyai Sami,” ujar hakim dengan lugas.
“Anda telah terbukti salah dalam tindakan intoleransi,
provokasi, dan persekusi terhadap kaum minoritas di kampung Ciutas.”
Suara ketuk palu bergemuruh.
“Dihukum sepuluh tahun penjara.”
Ruang sidang gaduh, kamera berkilat. Aku masih bersiaga,
di balik pagar pembatas, dengan jantung terpacu. Bu Sali memegang erat
tanganku, mengangguk. “Ini saatnya, nak.”
“Yang mulia, pak hakim!” Teriakku.
Hening, semua lensa berbalik menyorotku.
“Saya tahu ini melanggar tata tertib.. tapi izinkan saya
menyuarakan luka!”
Hakim kembali duduk. “Bicara.”
“Kiyai Sami. Aku, Renna. Muridmu. Anak petani yang kau
janjikan surga. Apakah jubah putihmu sudah cukup tebal untuk tutupi dosa?
Apakah Tuhan akan berpihak hanya karena kau rajin mengaji?
Hari ini negara menuntutmu karena menodai salib mereka.
Tapi aku, menuntutmu atas bunga malu yang dicabik, rahim
yang dibisukan oleh darah, dan ayah yang dibungkam dengan nyawa.. lalu kau
membuangku, melumpuri namaku dengan najis yang kau buat sendiri.”
Kiyai Sami berteriak, “Dia pendusta! Pelacur! Anak
Perampok!”
Dengan tenang, aku mengangkat baju, menampakkan luka pada
dunia.
“Luka ini, adalah nisan dari bayi tak bernama. Bukan
dusta yang bisa kau bantah dengan dalil, dan bukti.. bahwa terkadang, setan
bersorban dan berjenggot.
Dan bahwa.. Tuhan itu adil.”
Ruang sidang terdiam. Suasana berubah haru.
Hakim mengangguk pelan.
“Sidang dilanjutkan esok untuk menelusuri kejahatan
lainnya dari terdakwa.”
***
Obor menjilat langit, membakar malam yang murka.
Warga dikhianati.
Rumah sang kiyai runtuh, menjadi altar pembakaran. Perlahan sorban itu hangus, dilahap api dosa.
Salib itu tidak bertindak, tapi penindasan akan dibalas setimpal.
***
Pagi buta, Bu Sali mengabarkanku bahwa suaraku menjalar
di layar-layar.
Viral.
Mendorong korban lain untuk bersuara. Agama tersucikan
dari para pendusta.
Seketika terdengar suara ketukan pintu. Aku membuka.
“Selamat pagi, aku pendeta Alex.” Tersenyum dan teduh.
“Tuhan telah mengasihimu, adakah kau mau berjalan bersama
kami?” Ajaknya saat kami berbincang di ruang tamu.
“Aku hidup bersama padi, lambang keadilan bagi sesama.
Aku berduka atas kejadian itu.
Tapi Ayah berpesan saat hendak mengantarku mengaji, ‘Nak..
aku mendambakan surga untukmu. Jika ayah tiada, carilah ayah di neraka.
Pelajari Islam dari hakikatnya, tidak lagi sosoknya;
sebab hakikat tidak akan salah, sedang sosok hanyalah manusia pendosa.’
Aku, muslim, dari lahir.. hingga lahat.”
gifaritaufani, 20/07/2025
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar