Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pribadi

Saat Upaya Preventif Justru Membuka Celah: Paradoks Narasi Salafi terhadap Syiah di YouTube Pasca Konflik Iran-Israel

Gambar
  Bayangkan Anda seorang dokter yang datang ke kerumunan orang yang sedang menangis karena menyaksikan kebakaran besar di kampung tetangga. Di tengah kesedihan itu, alih-alih ikut berduka atau membantu memadamkan api, Anda justru berteriak: "Hati-hati, jangan minum obat tradisional!" Apa yang terjadi? Kemungkinan besar, orang-orang itu bukan hanya mengabaikan Anda—mereka akan marah, dan sebagian mulai bertanya-tanya: sebenarnya dokter ini berpihak pada siapa? Inilah, kira-kira, yang terjadi di kolom komentar YouTube Indonesia pasca konflik Iran-Israel 2026. Sebuah penelitian akademis menganalisis 2.689 komentar dari enam video YouTube bertema Salafi-Syiah dan menemukan sesuatu yang mengejutkan: semakin keras kelompok Salafi mengkampanyekan bahaya Syiah, semakin kuat pula simpati netizen terhadap Syiah. Pesan yang dimaksudkan sebagai vaksin justru berfungsi sebagai katalis. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Ketika Iran melancarkan serangan ke Israel pada awal 2026, mayoritas Muslim...

Mimpi Untuk Cianjur

Gambar
Cianjur , kota atau kabupaten tempat saya dilahirkan dan berkembang, kota yang menjadi dikenal semenjak bencana gempa bumi yang meluluhlantahkan sebagian kecamatan di kota ini pada 21 November 2022. Kota yang menyimpan budaya dan kekayaan alam. Kota sederhana yang menjadi cerita bagi kurang lebih 2 juta orang. Kota yang dahulu pernah menjadi kerajaan dari abad 16 hingga abad 19 yang didirikan oleh tokoh agama penting yang mendukung perlawaan akan penjajahan portugis, Sunan Gunung Jati Syiarif Hidayatullah, seorang wali dari kesembilan walisongo. Di masa penjajahan Belanda, kota ini menjadi bagian dari keresidenan Priangan atau Parahiyangan. Keresidenan ini aslinya beribu kota di  Cianjur , tetapi dipindahkan ke  Bandung  oleh Residen van der Moor setelah letusan  Gunung Gede  memporakporandakan Cianjur pada 1864. [1]  Ketika  van der Capellen  menerapkan sistem  cultuurstelsel  pada 1821, keresidenan ini tertutup bagi orang asing, tetapi...

Hari Pertama di Mesir

  Matahari terlihat sangat bulat, karena muncul dari dataran luas dengan langit tanpa awan, tak seperti di negeriku yang matahari pagi banyak terhalang oleh pepohonan, bangunan, dan awan. Kami masuk ke lobby selamat dari pengecekan tanpa pembongkaran. Aku merasakan sesuatu yang berbeda sekali, rasa takjub pada diri yang masih tak menyangka bisa pergi ke luar negeri. Di ruang lobby itu kami bingung mencari toilet ataupun musalla untuk sholat subuh, perasaan sangat tak nyaman kami belum melaksanakan sholat sedangkan matahari sudah terbit tinggi. Tapi apa boleh buat, kami tak menemukan toilet di lobby, mungkin karena kami tak paham bagaimana mereka menjelaskan tempat saat kami bertanya. Cairo International Airport tidak semegah dan sebesar bandara Soekarno-Hatta, lebih tepatnya seperti stasiun kereta atau terminal bis. Sudahlah kami menyerah, ayahku bilang, “Udah keluar dulu dari bandara, cari akh Hafidz.” Akh Hafidz adalah anak dari kawan ayahku yang sedang belajar di Mesir dan dia y...

Menuju Negeri Jauh

  Hari itu pun tiba, aku tak bisa tidur malam harinya karena membayangkan suatu hal yang tak terbayangkan sebelumnya: keluar negeri. Perasaanku campur aduk antara sedih dan bahagia, bahagia karena aku akan menemukan dunia baru dan sedih karena akan jauh dari rumahku. Segala persiapan sudahlah matang, koper sudah tertutup rapat. Aku pun bersiap-siap: mandi, mengenakan baju putih dengan jas, menyisir rambut, pokoknya berpenampilan rapih. Aku melihat setiap benda, sudut rumah, dan orang-orang. Sebelumnya aku pergi ke luar untuk membeli sarapan pagi, mengendarai motor aku berpikir bahwa sebentar lagi aku tak lagi di sini, tak lagi melihat orang-orang ini dan tak lagi bisa menikmati nasi uduk ini. Aku pun bersalam-salam dengan orang-orang yang datang untuk mengantarku. Setelah semua siap, barulah kita mulai perjalanan ini. Aku berpamitan dengan kakekku dan itu adalah kewajiban, jauh dari rumah tidaklah menjamin akan bertemu kembali apalagi bertemu dengan kakek yang berumur 90an, aku ciu...

Sebelum Pergi

  Hari-hari setelah rekreasi bersama sahabatku itu hanyalah berdiam diri di rumah menikmati sisa-sisa waktu bersama keluarga, meskipun sesekali keluar rumah atau pergi ke suatu tempat sendirian karena aku adalah orang yang selalu ingin pergi mencari banyak hal, bukan tipikal orang yang menikmati diam di rumah.            Gamila adalah adikku yang selalu menjadi penghiburku ketika di rumah, rasa bosanku hilang ketika aku bermain dengannya. Aku selalu ingin menjadi sosok yang ada di keluarga, bukan untuk mencari perhatian, akan tetapi ingin menikmati hari-hari ini karena aku tahu suatu saat nanti hari ini akan berakhir dan kita sulit bertemu. Aku ingin menjadi sosok kakak yang ada bagi kedua adikku, meskipun Ghiyas lebih suka diam di kamar sehingga aku sulit untuk bergaul dengannya. Adapun Gamila karena dia masih kecil sehingga aku sangat mudah mendekatinya. Sebentar lagi akan pergi untuk waktu yang lama, aku ingin Gamila mengingatk...