Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2023

Saat Upaya Preventif Justru Membuka Celah: Paradoks Narasi Salafi terhadap Syiah di YouTube Pasca Konflik Iran-Israel

Gambar
  Bayangkan Anda seorang dokter yang datang ke kerumunan orang yang sedang menangis karena menyaksikan kebakaran besar di kampung tetangga. Di tengah kesedihan itu, alih-alih ikut berduka atau membantu memadamkan api, Anda justru berteriak: "Hati-hati, jangan minum obat tradisional!" Apa yang terjadi? Kemungkinan besar, orang-orang itu bukan hanya mengabaikan Anda—mereka akan marah, dan sebagian mulai bertanya-tanya: sebenarnya dokter ini berpihak pada siapa? Inilah, kira-kira, yang terjadi di kolom komentar YouTube Indonesia pasca konflik Iran-Israel 2026. Sebuah penelitian akademis menganalisis 2.689 komentar dari enam video YouTube bertema Salafi-Syiah dan menemukan sesuatu yang mengejutkan: semakin keras kelompok Salafi mengkampanyekan bahaya Syiah, semakin kuat pula simpati netizen terhadap Syiah. Pesan yang dimaksudkan sebagai vaksin justru berfungsi sebagai katalis. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Ketika Iran melancarkan serangan ke Israel pada awal 2026, mayoritas Muslim...

Ramadhan Di Mata 2 Kriteria Penyambutnya

Gambar
Setiap muslim pastilah akan menunggu-nunggu bulan yang suci ini, baik dia terpaksa ataupun suka rela, baik dia mencari pahala ataupun kesenangan belaka. Yang jelas, bulan Ramadhan begitu spesial di hati umat Islam seluruhnya. Dan kini kita telah menginjakkan kaki di bulan yang penuh berkah ini. Marilah kita sejenak merenungkan sebuah perkara yang tak pernah kembali lagi, waktu. Berapakah umurmu? Belasan atau puluhan? Telah berulang kali Ramadhan datang menghampirimu bersama kita nikmati bulan itu dengan orang-orang yang kita cintai yang mungkin Ramadhan kini dia telah tiada. Saat Ramadhan pergi, kita menunggu dan tak terasa datang lagi dan pergi lagi. Apakah kita menyambut Ramadhan hanya sebatas event tahunan yang bergulir begitu saja tanpa ada bekas di diri kita? Seakan kita tak menyadari bahwa waktu berjalan secepat kilat dan setiap kali umur bertambah maka itu pun berkurang dan semakin dekat dengan kematian. Sudah menjadi hakikat bahwa Ramadhan tahun lalu hanya menjadi kenangan mani...

Manipulasi Angka (Mencari Esensi Ujian dan Meluruskan Keliru)

Gambar
Diangkat dari pengalaman selama 12 tahun duduk di bangku sekolah formal yang dipenuhi formalitas dibandingkan kualitas dan integritas. Setiap penghujung semester, para siswa dihadapkan pada ujian-ujian sebagai tolak ukur untuk menghitung sejauh mana siswa tersebut memahami setiap pelajaran. Sebuah langkah yang bagus karena dapat mendorong siswa untuk belajar dan mengulang ilmu yang telah dipelajarinya. Tapi, ilmu itu dirusak dengan angka-angka untuk meningkatkan kualitas sekolah dan namanya di mata umum sebagai “sekolah favorit”. Ujian yang sejatinya ditujukan untuk mengukur keilmuan siswa telah dicoreng oleh penjualan nama baik sekolah. Selama aku mengikuti ujian dari SD sampai SMA, telah banyak kumenemukan kejanggalan-kejanggalan yang membuatku di satu sisi menguntungkan dan di sisi lain memalukan. Kecurangan kerap kali terjadi seperti pemberian soal-jawaban sebelum hari-hari ujian, pembolehan berdiskusi saat ujian, guru pengampu memberitahu jawaban tatkala ujian, atau melarang b...

Penghargaan Yang Bukan Penghargaan (Mencari Hakikat Prestasi & Apresiasi)

Gambar
Aku pernah membaca sebuah artikel tentang pendidikan di Finlandia. Sebagaimana kita ketahui bahwa Finladia meraih peringkat teratas pendidikan terbaik di dunia dalam Literasi Membaca, Matematika, dan Ilmu Alam, setelah mendapatkan hasil uji dari Program for International Student Assessment (PISA) yang keluar pada tahun 2000, bersanding dengan Korea Selatan dan Jepang. Pendidikan berkualitas itu bergantung pada banyaknya pendidik yang diberikan keleluasaan dalam meramu kurikulum, menentukan metode, dan materi ajar. [1] Namun ada satu hal yang menarik sekali dari artikel itu, dikutip dari akupintar.id bahwa, “Sistem pendidikan di Finlandia ini percaya bahwa kunci dari kesuksesan adalah dengan kerjasama, bukan dengan berkompetisi.” [2] Mendidik anak untuk bekerjasama dan tidak saling berlomba pastilah ada langkahnya, tak serta-merta ada pada diri anak. Lazimnya anak itu senang berlomba menjadi yang pertama dan utama di antara kawan-kawan dan di situlah sebuah paksaan sosial yang menja...