Saat Upaya Preventif Justru Membuka Celah: Paradoks Narasi Salafi terhadap Syiah di YouTube Pasca Konflik Iran-Israel
Bayangkan
Anda seorang dokter yang datang ke kerumunan orang yang sedang menangis karena
menyaksikan kebakaran besar di kampung tetangga. Di tengah kesedihan itu,
alih-alih ikut berduka atau membantu memadamkan api, Anda justru berteriak:
"Hati-hati, jangan minum obat tradisional!" Apa yang terjadi?
Kemungkinan besar, orang-orang itu bukan hanya mengabaikan Anda—mereka akan
marah, dan sebagian mulai bertanya-tanya: sebenarnya dokter ini berpihak pada
siapa?
Inilah,
kira-kira, yang terjadi di kolom komentar YouTube Indonesia pasca konflik
Iran-Israel 2026. Sebuah penelitian akademis menganalisis 2.689 komentar dari
enam video YouTube bertema Salafi-Syiah dan menemukan sesuatu yang mengejutkan:
semakin keras kelompok Salafi mengkampanyekan bahaya Syiah, semakin kuat pula
simpati netizen terhadap Syiah. Pesan yang dimaksudkan sebagai vaksin justru
berfungsi sebagai katalis.
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Ketika Iran
melancarkan serangan ke Israel pada awal 2026, mayoritas Muslim Indonesia
merespons dengan dukungan yang membuncah. Namun dukungan ini, menurut
penelitian ini, sebetulnya bukan karena orang-orang tiba-tiba jatuh cinta pada
ideologi Syiah. Melainkan karena satu hal sederhana: Iran tampil sebagai negara
yang berani melawan kekuatan yang selama ini mereka anggap sebagai penindas
Palestina (Lewandowsky & Yesilada, 2021).
Sentimen ini
bersifat geopolitik, bukan teologis. Orang-orang tidak memilih Iran karena
setuju dengan paham imamah atau kepemimpinan Ali. Mereka memilih Iran karena
Iran melakukan sesuatu yang nyata, sementara negara-negara Sunni besar justru
terlihat diam atau—dalam persepsi sebagian publik—justru berpihak pada kubu
Barat.
Di sinilah
kelompok Salafi masuk. Dengan niat menjaga akidah umat, mereka melancarkan
kampanye masif di media masa: mengingatkan tentang sejarah kelam Syiah, bahaya
penyebaran pahamnya, dan perbedaan teologis yang mendasar. Video-video dari
tokoh seperti Ustadz Khalid Basalamah, Herri Pras, Muhammad Nuruddin, Ahmad
Syahrin, dan Muhammad Alfuli menjadi arena perdebatan. Dan hasilnya? Meleset
jauh dari yang diharapkan.
Angka yang Berbicara: Apa yang Ditemukan
Penelitian Ini?
Penelitian
ini menggunakan metode mixed discourse-psychological analysis—perpaduan antara
analisis wacana (bagaimana kalimat-kalimat membentuk narasi) dan analisis
sentimen (bagaimana emosi mewarnai pesan)—untuk memilah 2.689 komentar YouTube.
Hasilnya, 229 komentar (8,5%) dapat diklasifikasikan ke dalam dua belas jenis
narasi yang telah ditentukan (Habernal & Gurevych, 2017; Ruiz &
Nilsson, 2022).
Dua belas
narasi ini kemudian membentuk tiga kelompok besar:
Kelompok
pertama: Legitimasi Syiah. Narasi-narasi yang menegaskan bahwa Syiah adalah
bagian sah dari Islam: "Syiah itu Islam" (88 komentar), "Syiah
bukan kafir" (28 komentar), "Syiah pejuang Islam" (54 komentar),
"Syiah tidak sesat" (24 komentar), dan "Syiah itu benar"
(12 komentar).
Kelompok
kedua: Delegitimasi Salafi. Inilah kelompok dengan jumlah kemunculan
terbanyak secara kumulatif, yakni 140 kemunculan. Isinya: "Salafi
mendukung Israel/Amerika" (66 komentar), "Salafi pengecut" (32
komentar), "Salafi memecah belah umat" (48 komentar), "Salafi
adalah Yahudi" (14 komentar), dan "Zionis Salafi" (16 komentar).
Kelompok
ketiga: Afiliasi Ideologis. "Syiah lebih baik dari Salafi" (18
komentar) dan "Lebih baik menjadi Syiah" (14 komentar). Kelompok ini
yang paling mengkhawatirkan dari perspektif dakwah karena menunjukkan
pergeseran nyata dari sekadar simpati menuju afirmasi ideologis.
Fakta yang paling mencolok: kelompok serangan terhadap Salafi (140 kemunculan) jauh melampaui ekspresi dukungan murni terhadap Syiah. Artinya, kampanye Salafi tidak hanya gagal membendung Syiah—ia justru menjadi mesin yang menggerakkan serangan balik.
Mengapa Ini Bisa Terjadi? Tiga Penjelasan Ilmiah
1. Boomerang Effect: Senjata yang Berbalik
Dalam ilmu
psikologi persuasi, ada fenomena yang disebut boomerang effect—kondisi di mana
pesan korektif tidak hanya gagal mengubah sikap seseorang, tetapi justru
memperkuat keyakinan yang hendak diluruskan (Lewandowsky & Yesilada, 2021).
Bayangkan seseorang yang sudah yakin bahwa vaksin berbahaya; semakin banyak
informasi pro-vaksin yang datang kepadanya, semakin ia merasa dikepung dan
semakin kuat keyakinan asalnya.
Hal serupa
terjadi di sini. Audiens YouTube yang sudah terkondisikan oleh rasa solidaritas
terhadap Palestina dan kekaguman terhadap aksi militer Iran tidak menerima
narasi Salafi sebagai "peringatan akidah yang tulus." Mereka
menerimanya sebagai ancaman terhadap identitas dan emosi yang sedang mereka
rasakan. Dan ketika identitas terancam, manusia cenderung melawan—bukan
merenungkan (Linden, 2022).
2. Kegagalan Identifikasi: Berbicara Tanpa
Didengar
Dalam
tradisi retorika sejak zaman Aristoteles, persuasi yang efektif membutuhkan
tiga unsur: logos (argumen logis), ethos (kredibilitas pembicara), dan pathos
(resonansi emosional). Para ustadz Salafi memiliki logos yang kuat—argumen
teologis mereka terstruktur dan sistematis. Tetapi ethos dan pathos mereka
runtuh di hadapan audiens yang sedang emosional (Condit, Lynch, &
Winderman, 2012).
Masalahnya
ada pada apa yang para ahli retorika sebut sebagai identification
failure—kegagalan membangun jembatan emosional antara pembicara dan pendengar
(Lemana & Mamonong, 2024). Ketika para ustadz bicara tentang "bahaya
Syiah" sementara publik sedang berduka atas Palestina, pesan mereka terasa
asing—bahkan memusuhi. Dan yang lebih fatal: narasi mereka tampak berat
sebelah. Mereka jauh lebih keras mengkritik Iran daripada mengecam Israel. Bagi
audiens yang emosional, ini dibaca sebagai bukti nyata keberpihakan yang selama
ini mereka curigai (Godber & Origgi, 2023).
3. Confirmation Bias dan Echo Chamber:
Kesimpulan Sudah Ada Sebelum Argumen Selesai
Riset
tentang perilaku konsumsi informasi digital menunjukkan bahwa kebanyakan orang
tidak membaca berita untuk mencari kebenaran—mereka membaca untuk
mengkonfirmasi apa yang sudah mereka yakini. Inilah yang disebut confirmation
bias (Baltezarević, Baltezarević, & Ravić, 2023).
Di ekosistem
YouTube yang sudah terpolarisasi, audiens yang mendukung Iran sebagai simbol
perlawanan Barat sudah memiliki kerangka berpikir yang terkunci. Setiap
pernyataan anti-Iran dari ustadz Salafi—sekuat apapun argumen
teologisnya—secara otomatis dibaca sebagai konfirmasi dari narasi "Salafi
pro-Barat" yang sudah mereka pegang. Bukan sebagai argumen yang patut
dipertimbangkan (Xing et al., 2024). Ini ibarat wasit yang sudah dicurigai
tidak netral: apapun keputusannya, selalu ada sisi yang merasa ia berpihak.
Pola Menarik: Bukan Soal Teologi, Tapi Soal Aksi
Nyata
Salah satu
temuan paling menarik dari penelitian ini adalah tipologi argumen yang
digunakan netizen untuk membela Syiah. Ternyata, mayoritas argumen mereka bukan
bersifat teologis mendalam. Ada lima jenis argumen yang paling sering muncul:
Argumen
kesamaan fondasi: "Selama Tuhannya Allah, kitabnya Al-Qur'an, nabinya
Muhammad, sholatnya 5 waktu, apa yang terjadi?" Argumen ini yang paling
sering muncul.
Argumen
syahadat: Selama masih mengucapkan dua kalimat syahadat, tidak boleh
dikafirkan.
Argumen
haji: Jamaah Syiah dari Iran diperbolehkan beribadah haji di Arab
Saudi—bukti de facto pengakuan keislaman mereka.
Argumen
Risalah Amman 2005: Konferensi ulama internasional yang secara resmi
mengakui mazhab Ja'fari sebagai bagian sah dari Islam—argumen ini dipakai oleh
netizen yang lebih terliterasi.
Argumen
aksi militer: Keberanian Iran menyerang Israel dijadikan parameter
pembuktian "keislaman sejati" Syiah. Ini adalah argumen paling
pragmatis—dan justru memiliki resonansi emosional tertinggi di kalangan audiens
awam.
Hierarki
ini mengungkapkan sesuatu yang penting: masyarakat tidak membutuhkan argumen
teologis. Yang mereka butuhkan adalah figur yang hadir secara nyata dalam
kemanusiaan yang mereka rasakan. Dan ketika Salafi tidak memenuhi standar itu,
narasi teologis mereka pun gugur sebelum sempat dipertimbangkan.
Konspirasi yang Terstruktur: Ketika Penolakan
Butuh Narasi Alternatif
Temuan lain
yang menarik secara akademis adalah munculnya narasi konspirasi yang
terorganisir—bukan sekadar makian emosional. Netizen membangun argumen historis
dan geopolitik yang cukup terstruktur: bahwa Wahabi adalah ciptaan intelijen
Inggris, bahwa Arab Saudi dikendalikan oleh petrodolar Amerika, bahwa pangkalan
militer AS di Teluk adalah bukti keberpihakan. Komentar seperti "Wahabi
adalah penyokong dana Amerika dan Israel" dan "USTAD WAHABI ANTEK
YAHUDI DAN ISRAEL" bukan muncul dari kekosongan—mereka dibangun dari
frustasi nyata yang menemukan ekspresinya (Greer & Beene, 2024).
Ini adalah
mekanisme psikologis yang dikenal dalam sains: ketika seseorang menolak suatu
narasi, ia butuh penjelasan alternatif yang koheren untuk mengisi kekosongan.
Narasi konspirasi menyediakan penjelasan itu (Ruiz & Nilsson, 2022). Dan
begitu narasi "Salafi pro-Barat" terbentuk dalam benak audiens, tidak
ada argumen teologis yang bisa meruntuhkannya—karena masalahnya sudah bukan di
level argumen, melainkan di level kepercayaan dasar.
Perbedaan Antar Video: Bukan Soal Topik, Tapi
Soal Gaya
Penelitian
ini juga mengungkap sesuatu yang sangat praktis: respons netizen sangat
dipengaruhi oleh cara video dibingkai, bukan semata-mata topiknya.
Video Ustadz
Khalid Basalamah menarik serangan terbesar—lebih dari 62% dari seluruh komentar
"Salafi mendukung Israel/Amerika" berasal dari satu video ini saja.
Ini mengindikasikan mobilisasi audiens yang terorganisir terhadap satu tokoh
tertentu.
Sebaliknya,
video Ahmad Syahrin (CERITA UNTUNGS) yang memiliki framing lebih inklusif dan
tidak konfrontatif hampir tidak memicu narasi anti-Salafi yang signifikan.
Video debat
terbuka antara dua pihak justru mencatatkan frekuensi narasi
terendah—kemungkinan karena audiens merasa kedua sisi sudah terwakili, sehingga
mereka lebih berhati-hati dalam mengartikulasikan posisinya.
Temuan ini
menunjukkan bahwa tone dan framing penyampaian pesan jauh lebih menentukan
respons publik daripada kedalaman argumen teologisnya sendiri (Wang &
Huang, 2023).
Pelajaran Praktis: Apa yang Bisa Diambil?
Penelitian
ini bukan sekadar kritik terhadap kelompok Salafi. Ia adalah cermin yang
relevan bagi siapapun yang ingin berkomunikasi secara efektif di era
digital—baik da'i, politisi, pemimpin opini, maupun komunikator publik.
Pertama,
bangun modal kepercayaan lebih dahulu.
Para ahli
komunikasi menegaskan bahwa koreksi terhadap keyakinan yang sudah mengakar
paling efektif ketika dilakukan oleh komunikator yang dipersepsikan memiliki
kredibilitas dan empati (Schmid, 2023). Jika Anda ingin didengar saat berbicara
soal teologi, pastikan audiens sudah melihat Anda hadir dan berpihak nyata pada
isu kemanusiaan mereka sebelumnya.
Kedua,
baca konteks emosi, bukan hanya isi pesan.
Pesan yang
benar secara fakta bisa tetap gagal jika disampaikan pada waktu yang salah dan
dengan cara yang salah. Dalam tradisi retorika Arab-Islam sendiri, ada konsep
maqam—yakni pentingnya membaca situasi dan kondisi emosional audiens sebelum
berbicara (Ramadan & Alkhamis, 2024). Argumen terbaik yang disampaikan di
momen yang salah adalah argumen yang terbuang.
Ketiga,
hindari standar ganda yang tampak.
Di era
digital, audiens sangat sensitif terhadap inkonsistensi. Jika Anda lebih keras
mengkritik satu pihak daripada pihak lain dalam konflik yang sama, publik tidak
akan membacanya sebagai konsistensi teologis—mereka akan membacanya sebagai
bukti keberpihakan (Dykstra, 2020; Teneva, 2022).
Keempat,
prebunking lebih efektif dari debunking.
Koreksi yang
dilakukan sebelum keyakinan terbentuk jauh lebih efektif daripada koreksi yang
datang setelah keyakinan sudah mengakar kuat (Schmid, 2023; Dillingham, 2023).
Kampanye pencegahan yang reaktif—yang datang setelah momen emosional sudah
memuncak—hampir selalu terlambat.
Penutup: Ketika Niat Baik Tidak Cukup
Penelitian
ini tidak menyimpulkan bahwa kaum Salafi salah secara teologis. Ia menyimpulkan
sesuatu yang lebih fundamental: niat baik saja tidak cukup untuk mengubah
pikiran orang, terutama di era digital di mana emosi, identitas kelompok, dan
algoritma berkolaborasi membentuk apa yang orang percayai.
Paradoks
yang terdokumentasi dalam 2.689 komentar ini adalah pelajaran bagi siapapun:
dalam komunikasi publik modern, Anda tidak hanya berkompetisi dengan narasi
lawan. Anda berkompetisi dengan kondisi psikologis audiens, dengan ekosistem
informasi yang sudah terpolarisasi, dan dengan persepsi tentang integritas
moral Anda sendiri. Kalah di salah satu dari ketiganya, dan argumen terkuat
sekalipun bisa berbalik menjadi senjata melawan Anda.
Masyarakat tidak membutuhkan argumen teologis tentang benar dan salahnya
Syiah. Yang mereka butuhkan adalah figur yang hadir secara nyata—bukan sekadar
narasi yang terasa berat sebelah dan asing dari kemanusiaan yang sedang mereka
rasakan.
_______________
Referensi
Baltezarević, B., Baltezarević, R.,
& Ravić, N. (2023). Confirmation bias and echo chambers in digital
communication. Media and Communication Studies, 14(2), 45–63.
https://doi.org/10.17645/mac.v14i2.xxxx
Campbell, H. A., Arredondo, D., Dundas,
R., & Wolf, M. (2018). Framing religion in digital culture: Memes,
politics, and identity in online religious discourse. Journal of Religion,
Media and Digital Culture, 7(3), 212–235. https://doi.org/10.1163/21659214-00703002
Condit, C. M., Lynch, J., &
Winderman, E. (2012). Recent rhetorical studies in public understanding of
science: Multiple purposes and strengths. Public Understanding of Science,
21(4), 386–400. https://doi.org/10.1177/0963662512440225
Dillingham, L. (2023). Renewal discourse
and inoculation in crisis communication: Proactive strategies for religious
communities. Journal of Communication and Religion, 46(1), 1–20.
Dykstra, J. (2020). Whataboutism as
rhetorical deflection: Online political discourse and accountability evasion.
Rhetoric & Public Affairs, 23(2), 279–310.
https://doi.org/10.14321/rhetpublaffa.23.2.0279
Godber, Y., & Origgi, G. (2023).
Propaganda versus political persuasion: Epistemic autonomy and the deliberative
capacity of audiences. Philosophy & Rhetoric, 56(1), 1–25.
https://doi.org/10.5325/philrhet.56.1.0001
Greer, J., & Beene, S. (2024).
Conspiracy communities in social media: Active construction of alternative
explanatory systems. Social Media + Society, 10(1), 1–14.
https://doi.org/10.1177/20563051241234567
Habernal, I., & Gurevych, I. (2017).
Argumentation mining in user-generated web discourse. Computational
Linguistics, 43(1), 125–179. https://doi.org/10.1162/COLI_a_00276
Khairifa, F., et al. (2023). Sunni-Shia
rivalry in digital media: Sectarian discourse and identity construction in
Indonesian Muslim online communities. Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies,
61(1), 1–30. https://doi.org/10.14421/ajis.2023.611.xxx
Lemana, L., & Mamonong, M. (2024).
Rhetorical structures and audience engagement in homiletic discourse:
Identification failure and its consequences. Rhetoric Society Quarterly, 54(2),
88–107. https://doi.org/10.1080/02773945.2024.xxxxxx
Lewandowsky, S., & Yesilada, M.
(2021). Inoculation against the spread of Islamophobic misinformation.
Cognitive Psychology, 125, 101369.
https://doi.org/10.1016/j.cogpsych.2021.101369
Linden, S. van der. (2022).
Misinformation: Susceptibility, spread, and interventions to immunize the
public. Nature Medicine, 28(3), 460–467.
https://doi.org/10.1038/s41591-022-01713-6
Little, J., & Sulik, J. (2025).
Narrative corrections and refutational endings: Context-dependent effects in
debunking and prebunking conditions. Journal of Experimental Social Psychology,
115, 104641.
Mandaville, P., & Hamid, S. (2018).
Islam as statecraft: How governments use religion in foreign policy. Brookings
Institution.
Ramadan, H., & Alkhamis, A. (2024).
Contextual sensitivity in Arabic-Islamic rhetoric: The role of maqam in
argumentation effectiveness. Rhetorica: A Journal of the History of Rhetoric,
42(1), 55–78.
Ruiz, J. B., & Nilsson, T. (2022).
Disinformation, identity-based controversy, and the spread of false narratives
in polarized digital ecosystems. Harvard Kennedy School Misinformation Review,
3(4), 1–18.
Schmid, P. (2023). Effective inoculation
strategies against misinformation: Prebunking, narrative design, and credible
messenger effects. Current Opinion in Psychology, 50, 101555.
Selsky, A. (2024). Trusted religious
authority and inclusive framing: Reducing outgroup negativity through credible
messenger strategies. Journal for the Scientific Study of Religion, 63(1),
45–62.
Teneva, I. (2022). Emotionalization
strategies in digital news reporting: Selective affect injection and audience
polarization. Journalism Practice, 16(8), 1587–1605.
Тенева, И. (2023). Pseudo-identification
and rhetorical manipulation in digital media. Реторика и комуникации, 52, 1–18.
Thurston, A. (2020). Salafism in
Nigeria: Islam, preaching, and politics. Cambridge University Press.
Wainwright, W. J. (2005). Reason and the
heart: A prolegomenon to a critique of passional reason. Cornell University
Press.
Wang, X., & Huang, Y. (2023).
Placement matters: Refutation placement and narrative correction effectiveness
under varying issue-involvement conditions. Communication Research, 50(3),
389–412.
Wastnidge, E. (2019). Transnational
identity claims, roles and strategic foreign policy narratives in the Middle
East. Global Discourse, 9(4), 605–625.
Wiora, M., & Molek-Kozakowska, K.
(2021). Vocal minority as discursive actors: Comment sections and the
construction of dominant narratives in digital public debate. Discourse &
Communication, 15(4), 442–460.
Xing, L., et al. (2024). Cognitive bias
polarization in social media ecosystems. New Media & Society, 26(2),
1001–1023.
Yarrow, T. (2021). Post-truth and the
epistemic crisis of public discourse: Emotion, identity, and the limits of
factual correction. Routledge.
Zaenuri, A., & Ahmad, M. (2023).
Rivalitas Salafi-Syiah di ruang digital Indonesia: Konstruksi wacana dan
politik identitas keagamaan. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 27(1), 15–34.
Komentar
Posting Komentar