Postingan

Saat Upaya Preventif Justru Membuka Celah: Paradoks Narasi Salafi terhadap Syiah di YouTube Pasca Konflik Iran-Israel

Gambar
  Bayangkan Anda seorang dokter yang datang ke kerumunan orang yang sedang menangis karena menyaksikan kebakaran besar di kampung tetangga. Di tengah kesedihan itu, alih-alih ikut berduka atau membantu memadamkan api, Anda justru berteriak: "Hati-hati, jangan minum obat tradisional!" Apa yang terjadi? Kemungkinan besar, orang-orang itu bukan hanya mengabaikan Anda—mereka akan marah, dan sebagian mulai bertanya-tanya: sebenarnya dokter ini berpihak pada siapa? Inilah, kira-kira, yang terjadi di kolom komentar YouTube Indonesia pasca konflik Iran-Israel 2026. Sebuah penelitian akademis menganalisis 2.689 komentar dari enam video YouTube bertema Salafi-Syiah dan menemukan sesuatu yang mengejutkan: semakin keras kelompok Salafi mengkampanyekan bahaya Syiah, semakin kuat pula simpati netizen terhadap Syiah. Pesan yang dimaksudkan sebagai vaksin justru berfungsi sebagai katalis. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Ketika Iran melancarkan serangan ke Israel pada awal 2026, mayoritas Muslim...

Lebaran

Badanku masih membutuhkan sedikit istirahat. Aku memilih untuk memperbanyak waktu bersama keluarga di masa liburan kali ini. Pagi itu aku terbangun sekitar jam 8 pagi, waktu yang wajar saat bangun dari tidur subuh, aku terbiasa untuk tidak bangun melebihi jam 9 pagi. Dengan rambut yang masih acak-acakan, kepala yang agak pusing, dan badan lemas, aku bangkit dari sofa depan televisi itu untuk menghampiri ibuku yang sedang bekerja di dapur, dia sedang memasak sarapan untuk adikku, Gamila, yang masih berumur 3 tahun itu. Aku duduk di meja makan sambil melamun sejenak, lalu berkata, “Alhamdulillah Umi, kaka sudah agak mendingan, jadi gak perlu ke dokter, cukup istirahat lagi, Insya Allah, sehat.” “Oh yaudah atuh kalau gitu.”            Suara tangisan terdengar dari arah kamar ibuku, suara yang selalu ku nanti di setiap paginya yaitu suara adikku bangun. Aku bergegas menghampirinya dan mengajaknya untuk pergi ke luar kamar, “Sini Gamila,...

Perjalanan Awal

Haruskah pertemanan itu berhenti sesaat saja dan lenyap begitu saja? Tentu saja tidak. Jangan pernah. Empat bulan lalu, muncul sebuah wacana yang harap-harap menjadi sebuah rencana nyata dan jadi peristiwa untuk dikenang di masa datang. Semoga saja. Wacana ekslusif, sama halnya dengan aku, sang pembuat rencana. Aku adalah orang ekslusif bisa dibilang. Bukan tak mau berteman dengan banyak orang atau ingin ramai diajak melainkan aku lebih senang memilih siapa yang pantas kuajak agar hal-hal yang ku tak inginkan tak terjadi seperti larangan yang mungkin dilewati batasannya. “San, mau gak ke Ujung Genteng? Ane yang bawa mobil.” Ihsan adalah orang pertama yang kuajak dalam wacana ini karena dia adalah orang paling dekat denganku. “Gas.. ajakin yang lainnya..” “Okelah.”            Mulai sejak itu aku mulai mengajak kawan-kawan lain dan mulailah terkumpul orang-orang yang bisa disebut “sahabat dekat” untuk ikut dalam wacana ini. Mulaila...