Saat Upaya Preventif Justru Membuka Celah: Paradoks Narasi Salafi terhadap Syiah di YouTube Pasca Konflik Iran-Israel

Gambar
  Bayangkan Anda seorang dokter yang datang ke kerumunan orang yang sedang menangis karena menyaksikan kebakaran besar di kampung tetangga. Di tengah kesedihan itu, alih-alih ikut berduka atau membantu memadamkan api, Anda justru berteriak: "Hati-hati, jangan minum obat tradisional!" Apa yang terjadi? Kemungkinan besar, orang-orang itu bukan hanya mengabaikan Anda—mereka akan marah, dan sebagian mulai bertanya-tanya: sebenarnya dokter ini berpihak pada siapa? Inilah, kira-kira, yang terjadi di kolom komentar YouTube Indonesia pasca konflik Iran-Israel 2026. Sebuah penelitian akademis menganalisis 2.689 komentar dari enam video YouTube bertema Salafi-Syiah dan menemukan sesuatu yang mengejutkan: semakin keras kelompok Salafi mengkampanyekan bahaya Syiah, semakin kuat pula simpati netizen terhadap Syiah. Pesan yang dimaksudkan sebagai vaksin justru berfungsi sebagai katalis. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Ketika Iran melancarkan serangan ke Israel pada awal 2026, mayoritas Muslim...

Bandara

Wajahku terpana oleh pemandangan, dari kaca mobil kumelihat. Memandangi setiap wujud seakan mungkin kelak ku tak menemukannya lagi. Hatiku tak berpura-pura, sedihku tahan dari muncul di mimik wajah. Aku harap tak seorang melihat bahwa ku sedang berusaha. Ibuku terlihat tak kuasa meluapkan hatinya, mungkin air matanya berat melepaskan kepergianku. Dan kuyakin itulah sebenar-benarnya air yang tulus.

Koper didorong mengikuti arah petunjuk, bandara yang tak begitu ramai. Tanah terakhir negeriku yang kupijak, tinggal mengitung waktu yang tersisa. Dua kawanku yang berjasa pun datang, menemaniku di penghujung waktu, menunjukkan betapa kawannya ini membekas dan perlu untuk dihantarkan pergi. Waktu pun terus berjalan, ada sebuah jam pasir di pikiranku. Hatiku pun lara tak sanggup namun ku pandai bersembunyi.

Tiket pun akhirnya dapat dan koper pun sudah diserahkan pada alurnya untuk kutemukan nanti di tempat tujuan, dua hal yang membuktikan bahwa ku benar-benar akan pergi. Tinggal beberapa jam lagi yang kuyakin hanya seperti detik dalam detak jantungku yang berusaha menyiapkan mental. Dua kawanku terus memberiku semangat dan berkata, “Kau di jalan yang benar.”

Roti dan apapun itu yang ditawarkan serasa tawar, entah lidahku mengecap rasa hati atau perasaanku saja. Dan waktu pun tiba, tepat pukul 16.45 sore dan Kamis itu menjadi dua waktu terakhirku berdiri tegak di tanah lahirku. Ibuku tak mampu membayangkan betapa cepatnya waktu. Aku pun berlabuh di pelukannya yang telah lama ku tak memeluk tubuhnya. Ibuku hanya mengucapkan doa-doa yang tulus semurni air matanya dan suara hatinya. Bibirku terkunci tak mampu berucap sepatah kata pun, tapi hatiku tak bisu, “Umi, andai umurku tak bertambah aku ingin selalu ada di pelukanmu, tangan mungilku ingin selalu menggenggam tanganmu. Namun, tanpa lepas dari pelukanmu pun tetap saja waktu akan memisahkan. Maka relakan bocah kecilmu ini menghadapi dunianya sendiri. Tak perlu khawatir. Ada saatnya kita harus melepaskan.”

Diciumlah keningku seperti dahulu setiap kali melepaskanku di pesantren. Dan air matanya saat itu benar-benar nampak jelas mengalir di pipinya. Lepaslah aku dari pelukannya. Dan bergiliran memeluk setiap kerabat yang ada untukku. Adik kecilku, yang berumur tiga tahun, tak mengerti bahwa ku akan pergi jauh sehingga seakan tak terjadi apapun. Aku adalah orang yang paling dekat dengannya, yang menjadi hari-hari baginya.

Dua kawanku pun kembali ku sapa, salam, dan perpisahan. Mereka bilang, “Kau kuat, kau mampu, semangat!”

Di jalur imigrasi, itulah tempat terakhir kali melihat mereka. Melambaikan tangan seraya menguatkan jiwa, wajah mereka terhalang tembok dan kami pun berjalan melawan arah.

Lebih banyak tangisan di bandara dibandingkan di masjid, karena manusia hakikatnya tak mampu berpisah. Saat hati pun terbelah dua dan saling berjarak, saat itulah rindu menjangkiti.

Pesawat dengan lajunya membawaku pergi, meninggalkan masa lalu di belakangku. Seakan semakin jauh ku pergi, semakin pula ku kehilangan memori. Air mataku selalu menetes setiap kali ku pejamkan mata, bukanlah aku lemah sebagai seorang lelaki, namun apakah salah bila seorang lelaki menangisi dua hati yang berpisah? Keluarga bagiku adalah cinta pertama dan zona aman yang selalu menciptakan kenyamanan. Rumah selalu mendorongku pergi dan pergi selalu menyiksaku pulang.

Melalui jendela terlihatlah awan yang keemasan oleh sinar mentari senja dan seakan aku ingin mengucapkan beberapa kalimat yang tak sanggup mengalir dalam lidah,

Beginilah rasanya berpisah
Kutatap semua bagai ku tak akan melihatnya lagi
Aku terbang tinggi meniti Senja
Dari negeriku harap-harap tak pergi saja
Walau waktu seakan berhenti berjalan di atas sana
Tapi pesawat kalah cepat dengan rotasi bumi
Hingga gelap pun tiba dan senja negeriku sudahlah usai

Selamat jalan wahai para pendidik dan kawan-kawan, semua butuh berkelana agar tak membasi di kubangan, jasa kalian tak akan terlupa sepanjang hayat, moga-moga kita punya waktu untuk bertatap mata. Tak perlu khawatir, di perantauan ada banyak pengganti dari orang-orang yang ditinggalkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melepas Penutup Mata (Sebuah Cerpen Kritik Sosial)

Saat Upaya Preventif Justru Membuka Celah: Paradoks Narasi Salafi terhadap Syiah di YouTube Pasca Konflik Iran-Israel

Pemilu (dari mata orang sok tahu)