Saat Upaya Preventif Justru Membuka Celah: Paradoks Narasi Salafi terhadap Syiah di YouTube Pasca Konflik Iran-Israel

Gambar
  Bayangkan Anda seorang dokter yang datang ke kerumunan orang yang sedang menangis karena menyaksikan kebakaran besar di kampung tetangga. Di tengah kesedihan itu, alih-alih ikut berduka atau membantu memadamkan api, Anda justru berteriak: "Hati-hati, jangan minum obat tradisional!" Apa yang terjadi? Kemungkinan besar, orang-orang itu bukan hanya mengabaikan Anda—mereka akan marah, dan sebagian mulai bertanya-tanya: sebenarnya dokter ini berpihak pada siapa? Inilah, kira-kira, yang terjadi di kolom komentar YouTube Indonesia pasca konflik Iran-Israel 2026. Sebuah penelitian akademis menganalisis 2.689 komentar dari enam video YouTube bertema Salafi-Syiah dan menemukan sesuatu yang mengejutkan: semakin keras kelompok Salafi mengkampanyekan bahaya Syiah, semakin kuat pula simpati netizen terhadap Syiah. Pesan yang dimaksudkan sebagai vaksin justru berfungsi sebagai katalis. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Ketika Iran melancarkan serangan ke Israel pada awal 2026, mayoritas Muslim...

Merana Oleh Kecewa

Banyak manusia modern yang lupa dari makna dewasa. Kita hanya tahu bahwa dewasa adalah beban, kecewa, rasa sakit dan luka, serta keterasingan yang seakan semakin umur bertambah kita kehilangan banyak cinta sekaligu menemukan cinta baru yang melupakan cinta lama. Dewasa dimaknai serampangan oleh sifat-sifat manusia yang sulit menerima kenyataan bahwa usia memaksa dia untuk dewasa. Usia yang bertambah dan sifat-sifat kanak-kanak yang kita masih bawa dan mengubah namanya menjadi dewasa.

Ingat-ingat, apakah dewasa yang kita maknai itu benar-benar makna dari kedewasaan? Semasa kecil kita mudah kecewa saat tak menerima apa yang dimiliki. Semasa kecil kita sering menangis karena luka kecil dari duri di jalanan. Semasa kecil kita mudah bersedih oleh cemoohan orang yang tak suka. Semasa kecil kita sering merasakan beban atas saingan dari permainan yang tak seberapa.

Apakah itu sifat dewasa? Sifat kanak dengan menghadapi objek yang berbeda saja. Kecewa tak mendapatkan kuliah, menangis karena hidup yang keras, bersedih karena tekaan sosial, terbebani oleh persaingan yang ketat.

Lantas apakah pantas bahwa semakin dewasa semakin kecewa?

Haruskah merana oleh kecewa?

Sebenarnya hal terberat dari kedewasaan itu bukanlah rasa-rasa dalam hati, melainkan harapan-harapan dari para sosok tercinta yang hendak melihat kita sesuai yang mereka harapkan. Aku pergi jauh dengan segudang harapan orang yang mengantarkanku di bandara, tapi sesaat setelah sampai di tanah orang, bintang memanglah berada di ruang hampa. Aku khawatir tak mampu meniti apa yang mereka harapkan. Namun kekhawatiran itu masih bisa dilawan dengan semangat dan melawan malas.

Harapan para sosok tercinta bukanlah menjadi sebuah kemunduran bagi kita dengan berkata, “Ini bukanlah jalanku.” Sehingga berusaha keluar dari apa yang mereka coba memberikan jalan terbaik untukmu. Kau merasa bahwa kau punya jalan terbaik, dan menggadaikan kata cinta demi harapanmu yang entah baik atau buruk bagi mereka.

Mungkin saja, mimpi kita baik bagi kita ke depannya, tapi janganlah kau memilih jalan memaksa dengan melawan bahwa, “Aku harus berbeda dengan harapan mereka.” Lalu bersenandung, “Aku tambah dewasa, aku takut kecewa, aku takut tak seindah yang kukira.”

Kecewa di masa dewasa adalah karena kau berusaha mengubah isi hatimu dengan mencari cara lain sebagai pembenaran bahwa dirimu harus seperti dirimu dalam pandangan orang yang kau lihat. “Aku ingin menjadi diri sendiri,” tapi nyatanya menjadi diri sendiri dengan cara orang lain menjadi dirinya.

Jujur saja, hidup merantai jauh bukanlah budayaku, tapi terpaksa demi melancarkan harapan mereka. Namun pada nyatanya, aku ada di tempat jauh ini tak seindah dan selurus yang kukira, aku pun tak mengecewakan mereka yang berharap. Tapi kecewaku bukanlah untuk melawan dan mencari jalan lain, kecewaku karena aku takut tak mampu namun aku tetap berusaha.

Entah bagaimana dewasa disandingkan dengan kecewa dan luka, padahal sejak kecil pun kita terbiasa untuk kecewa dan terluka. Dan mengapa kedua hal itu disebut kedewasaan?

Padahal bila kita melihat orangtua kita yang telah lebih dahulu merasakan hidup dan gunjang-ganjingnya. Dewasa pun sudah melekat pada diri mereka. Apakah ditemukan sifat-sifat mudah kecewa dan terluka? Mereka hidup seperti seorang pelaut yang siap menghadapi ombak badai. Ayah kita mungkin pernah kecewa soal pekerjaan tapi tetap saja dia menjalani hidupnya demi penghidupan. Ibu kita mungkin pernah kecewa soal diri kita yang mengecewakannya, tapi dia tetap saja mengurus kita. Keduanya tak menjadi putus asa dan mengurung di kamar.

Mereka mengolah kecewa dan luka untuk menjadi semakin kuat menghadapi kerasnya hidup demi kehidupan yang lebih baik.

Hidupmu tak seburuk yang kau pikir dan sesal, ada banyak orang di luar sana yang lebih buruk kehidupannya namun meraka tak berkicau selayaknya dirimu. Mereka tetap menjalani saja.

Kita terlalu banyak berpikir, memikirkan, dan takut dipikirkan. Kita terlalu overthingking, insecure, anxiety. Apakah semua sifat itu muncul justru dari obatnya, dari buku-buku self-improvement atau mental health ­dan lagu-lagu self-healing yang katanya mewakili isi hati dan hidupmu serta mencarikan solusi untuk kesembuhan mentalmu justru menjadi sebab munculnya jiwa yang lemah dalam dirimu?

Sebuah fakta tak terbantahkan bahwa usia akan terus bertambah sedangkan dewasa adalah pilihan, dan jangan membawa sifat kanak-kanak itu dengan nama dewasa.

Dewasa dalam perspektifku dari hasil melihat mereka yang sudah lama berjalan di muka bumi adalah jalani saja apa yang terjadi dalam hidup ini, tak pedulikan orang yang merendahkan karena ujung-ujungnya kita hidup sendiri-sendiri, tak perlu takut kesepian karena sepi adalah hal yang terterhindarkan, sedihlah secukupnya dari orang yang pergi karena setelah itu pasti ada pengganti. Dan intinya bahwa dewasa adalah menjalani hidup dengan santai, yang penting kau selamat dalam hidup ini hingga ajal menjemputmu dan kau pun tenang di sana dengan pencapaianmu yang terbaik untuk Tuhan dan orang-orang di sekitarmu.

Adapun luka, kecewa, dan khawatir hanyalah bagian dari rasa-rasa hati sebagai ekspresi yang timbul dari kenyataan hidup yang kelak akan menjadi bagian episode hidupmu yang mengagungkan.

Dewasa memanglah berat, tapi tenggelam dengan berpikir cara sembuhkan mental hanyalah beban yang kau ciptakan sendiri.

Sudahilah senandungmu, “Tak perlu khawatir, ku hanya terluka. Terbiasa tuk pura-pura tertawa.” Pura-pura bahagiamu itu justru membebani orang lain. Berdalih berusaha bahagia demi menyembunyikan luka dalam atau demi masa penyembuhan mental itu hanya menyusahkan orang-orang yang hendak melihatmu berjuang saja dan bahagia yang tulus. Topeng bahagia tak tersembunyikan. Buka saja topeng itu dan katakan pada mereka bahwa kau butuh pendamping untuk menyembuhkan mental.

Sudahilah ucapmu, “Mereka tak paham aku.” Mereka bukanlah dirimu, bukan pula jiwamu. Mereka tentu tak paham kau. Kaulah yang seharusnya mengerti itu. Sampai kapan kau hendak menunggu mereka mengertimu.

Tak kuasa memaksa
Manusia tak mungkin pahami jiwa
Lupakanlah kaca
Dan pemandangan di depannya
Seringlah bercermin sebelum berkaca
Dan jangan paksa kaca menghadapmu
Menutupi apa yang dibaliknya

Manusia hanya memperbaikimu dari zahirnya saja. Batinmu adalah dirimu yang perbaiki. Bawakan nasihat itu pada batinmu dan munculkan rasa bersalah agar menerima apa yang dinasihatinya. Orang yang merasa benar tak akan menerima nasihat. Dewasa adalah masa yang keras, dan keras pula orangnya. Saat kita dewasa ini janganlah mengikuti sifat aslinya yang menolak, namun lawanlah untuk terbuka dengan saran, hambatan, pukulan, dan hinaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melepas Penutup Mata (Sebuah Cerpen Kritik Sosial)

Saat Upaya Preventif Justru Membuka Celah: Paradoks Narasi Salafi terhadap Syiah di YouTube Pasca Konflik Iran-Israel

Pemilu (dari mata orang sok tahu)