Saat Upaya Preventif Justru Membuka Celah: Paradoks Narasi Salafi terhadap Syiah di YouTube Pasca Konflik Iran-Israel

Gambar
  Bayangkan Anda seorang dokter yang datang ke kerumunan orang yang sedang menangis karena menyaksikan kebakaran besar di kampung tetangga. Di tengah kesedihan itu, alih-alih ikut berduka atau membantu memadamkan api, Anda justru berteriak: "Hati-hati, jangan minum obat tradisional!" Apa yang terjadi? Kemungkinan besar, orang-orang itu bukan hanya mengabaikan Anda—mereka akan marah, dan sebagian mulai bertanya-tanya: sebenarnya dokter ini berpihak pada siapa? Inilah, kira-kira, yang terjadi di kolom komentar YouTube Indonesia pasca konflik Iran-Israel 2026. Sebuah penelitian akademis menganalisis 2.689 komentar dari enam video YouTube bertema Salafi-Syiah dan menemukan sesuatu yang mengejutkan: semakin keras kelompok Salafi mengkampanyekan bahaya Syiah, semakin kuat pula simpati netizen terhadap Syiah. Pesan yang dimaksudkan sebagai vaksin justru berfungsi sebagai katalis. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Ketika Iran melancarkan serangan ke Israel pada awal 2026, mayoritas Muslim...

Hari Pertama di Mesir

 Matahari terlihat sangat bulat, karena muncul dari dataran luas dengan langit tanpa awan, tak seperti di negeriku yang matahari pagi banyak terhalang oleh pepohonan, bangunan, dan awan. Kami masuk ke lobby selamat dari pengecekan tanpa pembongkaran. Aku merasakan sesuatu yang berbeda sekali, rasa takjub pada diri yang masih tak menyangka bisa pergi ke luar negeri. Di ruang lobby itu kami bingung mencari toilet ataupun musalla untuk sholat subuh, perasaan sangat tak nyaman kami belum melaksanakan sholat sedangkan matahari sudah terbit tinggi. Tapi apa boleh buat, kami tak menemukan toilet di lobby, mungkin karena kami tak paham bagaimana mereka menjelaskan tempat saat kami bertanya. Cairo International Airport tidak semegah dan sebesar bandara Soekarno-Hatta, lebih tepatnya seperti stasiun kereta atau terminal bis. Sudahlah kami menyerah, ayahku bilang, “Udah keluar dulu dari bandara, cari akh Hafidz.” Akh Hafidz adalah anak dari kawan ayahku yang sedang belajar di Mesir dan dia yang akan menjemput kami di bandara.

“Tapi kaka pengen beli kartu SIM dulu.”

Aku ingin membeli kartu SIM supaya handphoneku berfungsi dan bisa mengabarkan ibuku bahwa aku sudah sampai. Tapi saat aku menghampiri kios Vodofone, salah satu kartu SIM di Mesir, namun saat aku bertanya dia hanya berkata, “The system is down!” dengan logat Arab. Ya sudahlah, pundakku berat oleh beban tas dan tanganku lelah mendorong koper yang berat sekali. Ayahku menyuruh untuk keluar saja. Ayahku keluar bandara dan mencari akh Hafidz, dia pun tak tahu ayahku yang mana, dia tanyakan pada ayahnya tapi belum menjawab, namun entah mengapa seperti ada hubungan tiba-tiba ayahku dan akh Hafidz saling melambaikan tangan dan saling mengenal, akhirnya kami pun keluar bandara dan bertemu dengan akh Hafidz. Kami duduk di kursi yang tersedia sambil menunggu akh Hafidz memesan taksi dan mengobrol dengan supir taksi lewat telepon dengan bahasa Amiyah yang lancar. Aku melihat sekeliling, ada segerombolan orang Indonesia yang mungkin sedang menjemput kawan mereka dengan tampilan yang gaul sambil tertawa terbahak-bahak dan merokok, aku melihat pula banyak mobil sedan yang lalu-lalang di jalan bandara. Ayahku disapa oleh seorang ibu orang Mesir yang menyambutnya dengan bahasa Amiyah, ayahku yang tak punya basic bahasa Arab hanya menjawab salam dan sisanya berbahasa isyarat, aku membantunya berkata-kata dengan Fusha tapi dia sepertinya tak paham apa yang kukatakan. Intinya dia bilang, “Selamat datang di Mesir,” karena aku mengatakan, “Ini adalah kali pertama aku di Mesir.”

Kami mengikuti akh Hafidz mencari taksi, berjalan kaki menyusuri jalan dengan hawa pagi yang sejuk, tak sepanas yang kukira, karena masih pagi. Menurun lewat lift jalanan, dan menuju parkiran yang tak beraturan yang dipenuhi oleh mobil-mobil sedan dari zaman lampau hingga zaman kini. Kami pun menemukan taksi itu dan masuk ke mobil dengan salam. Supirnya orang yang ramah dan itu adalah gambaran pertama bagiku terhadap orang Mesir: mereka orang baik dan welcoming. Di perjalanan ayahku dihadiahkan Al-Quran dan aku dihadiahkan alat dzikir, dia menceritakan sedikit tentang Mesir seperti sebab kenapa di Mesir semua rumah berwarna pasir, katanya karena sudah menjadi peraturan daerah untuk menyamakan warna bangunan. Aku kaget dengan cara dia berkendara, memang jalanan di sini sangatlah mulus dan luas, nyaman sekali untuk ugal-ugalan, tapi tetap saja bagi kami ini adalah sebuah hal yang mengagetkan seakan mobil berjalan sesuka dan semau mereka saja.

Akhirnya kami pun sampai di tujuan, di depan sebuah gedang yang lantai dasarnya ada sebuah toko sewalayan bernama Khair Zaman. Jalanan yang sedikit kotor dengan sampah berserakan, tak ada gedung megah, mobil berjalan kencang dengan klakson yang berisik. Kami menurunkan barang-barang kami, ayahku meminta tanda tangan supir itu di Al-Quran yang dia hadiahkan. Kami pun masuk ke gedung yang tak megah sama sekali itu, seperti tak terawat, kemudian masuk ke lift sempit yang membawa kami ke lantai dua dengan doa berkendara yang keluar dari radio. Keluar lift, kami hanya menemukan lorong sempit, tak dicat, ada sebuah jendela yang tak berkaca yang terbuka menuju sebuah ruangan yang penuh dengan sampah, gambaran buruk bagi kami. Ayahku merasa tak betah dan berkata ingin pindah ke hotel, tapi saat dibuka pinta penginapan milik KPMJB (Kekeluargaan Paguyuban Masyarakat Jawa Barat) ternyata tak seburuk luarnya. Memang katanya bangunan di sini itu jelek di luar tapi bagus di dalam. Kamar yang rapih dengan dapur dan ruang tamu yang tertata, ayahku sedikit kaget ternyata tak seperti yang dibayangkannya, ayahku betah di sana, kami istirahat dan sholat subuh yang sudah telat sekali. Aku sudah sangat lelah, aku ingin tidur. Ayahku mengobrol sedikit dengan akh Hafidz lalu setelah itu memintanya untuk menukarkan uang dan membelikan kartu SIM. Setelah itu barulah ayahku pun istirahat dan tidur.

***

Seharusnya cerita tentang hidupku di negeri ini berlanjut hingga tujuh hari kedepan saat ayahku kembali pulang dan aku berjuang sendiri menghadapi berbagai cerita dan derita, telah sampai pada kisahku mengenai perjalanan kami di Piramida, tapi segalanya lenyap karena kebodohanku terhadap perkomputeran hingga aku melakukan kesalahan yang fatal yang mengakibatkan laptopku ini terkena virus dan hilangnya sebagian besar tulisanku ini dan seluruh isi laptop ini. Sejenak aku merasa down karena kehilangan banyak tulisanku, tapi hari ini aku ingin memulai lagi. Meskipun cerita tujuh hari kedepan telah lenyap, tapi tak mengapa, biarkan lisanku yang bercerita, dan di sini aku hanya ingin berterus terang secara singkat tentang hidup ini dan semua yang kualami di sini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melepas Penutup Mata (Sebuah Cerpen Kritik Sosial)

Saat Upaya Preventif Justru Membuka Celah: Paradoks Narasi Salafi terhadap Syiah di YouTube Pasca Konflik Iran-Israel

Pemilu (dari mata orang sok tahu)